IK
Hou Van Je (Chapter 2)
Main
cast:
Beneepa
Greeny Rarun (You)
Bebbhy
Alova Rarun(Sister)
Arthur
Borland (Beneepa’s Boyfriend)
Sammy
Jo (Mr. X)
Denis
Young (friend in the class)
Catatan : Cerita ini asli, hanya main
castnya yang aku ganti. Jadi jika ada kesalahan atau kesamaan cerita atau nama,
mohon maaf. Oh bagi yang tidak mengetahui ik hou van je akan ku beritahu, itu
adalah bahasa belanda yang artinya “aku mencintaimu”.
Happy
Reading
“Kau puas sekarang? Hubunganku
dengannya sudah berakhir. Apalagi yang kau inginkan? Aku benci Sammy, tapi aku
lebih membencimu Bebbhy. Kau bukan kakakku”. Amarahku membuncah
ketika ia menghampiriku di lantai atas. “Aku tak bermaksud begitu, hanya saja
aku khawatir”. Si gadis bermata indah itu berujar padaku. “Diamlah, jangan
berbicara sepatah katapun padaku. Aku membencimu, sangat membencimu”. Teriakku padanya,
selama ini aku belum pernah semarah itu padanya. Aku tak pernah marah padanya
meski hidupku berbeda dengannya, dia adalah gadis bermata indah kebanggaan
keluarga. Mereka semua tak pernah memandangku, semua itu hanya untuk Bebbhy. Semua
keluarga akan melakukan apapun untuknya, tapi tidak untukku. Hanya untuk
membeli tas sekolahpun aku harus menabung menyisihkan uang saku selama dua
minggu, pulang dan pergi sekolahpun aku harus berjalan kaki demi membeli sebuah
tas sekolah. Hanya pamanku yang mengerti aku, dia bahkan rela mengantarku pergi
sekolah padahal aku tau dia sama sekali belum tidur hari ini mengingat
banyaknya pekerjaan yang mengharuskan ia lembur.
“Brakk”. Aku membanting pintu kamarku
begitu keras kemudian menjatuhkan tubuhku diatas tempat tidur dan terisak. “Dia
tidak datang, dia membenciku”. Ujarku dibarengi isakkan.
Keesokan
harinya..
Seperti biasa, hal pertama yang kucari
saat melewati gerbang sekolah adalah kuda besi berwarna biru miliknya. Tapi kali
ini aku sama sekali tidak tersenyum, hari ini hari pertamaku memasuki kelas
baru. Ya aku sudah naik kelas dua SMA, awal yang buruk mengetahui jika Arthur
juga ikut program yang sama denganku. Namun kali ini kami tidak satu kelas
lagi, hanya bersebelahan. Gadis bermata indah kebanggaan keluargaku pun sudah
tak ada lagi di rumah, mengingat ia seorang mahasiswa sekarang. Baguslah,
berarti aku tak perlu melihatnya.
Mengapa sulit mengaku cinta padahal ia
ada..
Dalam rinai hujan dalam terang bulan
juga dalam sedu sedah..
Mengapa berat ungkapkan cinta padahal
yang terasa..
Dalam rindu dendam hening malam cinta
terasa ada..
Dering ponselku berbunyi, “nomor
handphone siapa ini?”. Heranku dibarengi menautkan halis. Beberapa kali nomor
asing itu menggangguku, akupun kesal dan mengangkatnya enggan bahkan malas. “
Hallo siapa ini?”. Aku memulai pembicaraan dengan si penelepon. “Sepertinya kau
tidak bersemangat, bahkan kau lupa padaku. Aku Sammy”. Ujar si penelepon yang
ternyata manusia jahat itu, mau apa dia?.
“Mau apa kau menelponku? Kalau kau
menelponku untuk menanyakan kakakku kenapa kau tidak langsung saja padanya? Jangan
menggangguku”. Jawabku ketus. Manusia jahat itu malah cengengesan tidak jelas,
kalau saja dia ada di depanku sudah kutelan hidup-hidup. “Jangan marah begitu
padaku, aku mencintaimu Beneepa”. Katanya. “ Tapi aku sama sekali tidak
memiliki perasaan yang sama denganmu Tuan Sammy Jo, jadi lupakanlah aku. Jangan
pernah menggangguku”. Masih dengan ketus aku menjawabnya dan memutuskan
percakapan dengannya secara sepihak.
Kulirikkan kepalaku kekiri dan
kekanan, suasana hari ini membuatku bosan. Hari ini belajar tidak begitu
efektif, hanya membentuk struktur organigram dan piket kelas. Aku keluar kelas
bersiap untuk pulang, seketika itu pula tubuhku menegang melihatnya. Arthur
Borland, apa kau baik-baik saja? Aku disini, lihatlah aku. Aku begitu menderita
Arthur, sungguh. Tolong aku Arthur. Batinku menjerit kala melihatnya sedang
bersenda gurau bersama teman-teman kelas barunya.
Kulangkahkan kakiku menuju gerbang
sekolah untuk pulang, tapi celakanya aku melewati kelas itu. Kelas yang penuh
dengan kenanganku bersama Arthur.
Flashback..
“Hei, kenapa kau tidak begitu
bersemangat? Ada apa denganmu?”. Ujar Arthur menghampiriku yang sedang duduk
dibangku urutan belakang setelah pelajaran bahasa usai. “Arthur, apa aku adalah
orang yang jahat?”. Balasku dengan mata yang berkaca-kaca. “Tidak kau orang
yang baik Beneepa, kenapa kau bertanya seperti itu? Kau bisa bercerita padaku jika
kau mau”. Ujarnya dengan senyum yang lembut. Akupun terisak dan menceritakan
semuanya, bahwa kemarin ada seseorang yang menyebutku br#ngs#k. “Apa? Denis bilang
begitu padamu? Akan kuberi pelajaran dia tenanglah”. Belanya padaku. “Tidak, aku tidak mau dia semakin menghinaku Arthur”. Ujarku
sembari menghapus air mataku. “Kalau begitu kau jangan menangis lagi, jika kau
menangis lagi akan kupastikan Denis si bocah hitam itu mendapat pelajaran”. Ujar
Arthur sembari tersenyum dan mengusap puncak kepalaku, mengacak rambutku lebih
tepatnya.
Flashback
end..
Aku menutup mataku menghirup udara
sebanyak mungkin yang kubisa. Saat ini aku berada di taman belakang sekolah. Aku
tidak bisa pulang saat ini, seharusnya aku tak melewati koridor itu. Koridor itu
penuh dengan kenanganku dengannya, apa ia masih mengingatnya? Lebih baik untuk
saat ini aku tetap berada disini, sampai waktu yang tepat untuk pulang.
TBC




