Rabu, 02 Juli 2014

Love Like Monster (Chapter 4)



Love Like Monster (Chapter 4)


Main cast       :
·         Choi Xi Hyun
·         Park Jae Hyuk
·         Han Yong Woo
Genre             : Relationship, Sadness, Friendship, Romance, Triangle Love, Family.
Lenght           : Chapter
Happy Reading
“Dimana kau saat aku menginginkanmu berada di sampingku? Kemana larinya kau saat aku berjuang untuk satu-satunya makhluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis”. - Xi Hyun.
“Aku akan selalu ada untukmu, melindungimu”. – Jae Hyuk.
...
Previous
“Braakk”. Aku membuka pintu kantor ayah dengan kasar. “Yak! Dasar anak bodoh, sudah appa bilang kau harus mengetuk pintu sebelum masuk”. Ujar ayah. “Ini lebih penting dari sekedar mengetuk pintu appa”. Ujarku menahan emosi dan mengatur nafasku yang memburu. “Mwo? Apa yang ingin kau katakan?”. Tanya ayah. “Aku ingin meneruskan perusahaan appa”. Jawabku mantap, sedangkan ayah hanya tercengang mendengar penuturanku. “Aku akan berusaha appa”. Ujarku lagi pada ayah. “Kau serius?”. Tanya ayah. “Ne appa, aku serius”. Ujarku padanya. “Baiklah kalau begitu”. Jawab ayah. “Tunggulah Xi Hyun, semua milikmu akan kurebut kembali. Aku berjanji”. Batinku berujar.
...
Author Pov.
Seorang namja dengan mengenakan setelan layaknya direktur utama tengah mematut dirinya didepan cermin memastikan penampilannya melalui bayangan dalam sebuah cermin besar itu. Setelah merasa penampilannya tidak begitu buruk, ia segera menyambar tas jinjing yang tergeletak diatas tempat tidur dan segera pergi dari tempat itu.
Jae Hyuk Pov.
“Annyeong”. Sapaku pada seorang yeoja cantik yang tengah asyik berkutat di dapur. “Ne, annyeong”. Jawabnya tanpa melihatku. “Hmmm dasar so sibuk”. Batinku berujar. “Duduklah, Park ajhussi sudah pergi”. Ujarnya sembari menyiapkan makanan yang ia masak diatas meja dan masih tetap tak melihatku. Akupun hanya mematung tak melakukan apapun selain memandangnya, itu hal yang sangat kusuka akhir-akhir ini. Ya semenjak dia tinggal disini, aku bisa lebih leluasa menatapnya tanpa harus berbagi dengan orang lain terlebih lagi si Yong Woo itu. Dia selalu menyiapkan sarapan untukku, seperti suami isteri saja. “Sudah kubilang ayo du...”. merasa aku tak bergerak sama sekali dari posisi, akhirnya ia memandangku dan perkataannya pun tak ia lanjutkan. Mungkin ia terkejut dengan penampilanku. Lihat bahkan sekarang dia menatapku tanpa berkedip, aku tau kalau aku ini tampan. “Ehem”. Dehemanku membuyarkan lamunannya. “Oh mianhae, anjuseoyo”. Ujarnya dengan gugup. Aku suka melihatnya seperti itu, sungguh lucu. “Kau mau kemana dengan setelan seperti itu? Jangan bilang kau menerima tawaran Park ajhussi “. Celotehnya panjang lebar, hmmm yeoja pintar. “Ya mulai hari ini aku akan meneruskan perusahaan appa”. Jawabku. “Wooaaa daebak, fighting ne”. Ujarnya memberi semangat. “Ngomong-ngomong bibi Jung kemana?”. Tanyaku. “Hmmm aku menyuruhnya membeli beberapa keperluan dapur, stok bahan di rumah sudah menipis. Memangnya kau mau kalau kau tidak makan? Kau kan rakus”. Ujarnya mengejek. “Mwo? Yak! Choi Xi Hyun, jugule?”. Ujarku padanya dengan dibuat-buat seperti orang marah. Well, aku tak pernah bisa untuk marah padanya. “Ne, ne mianhae”. Ujarnya dengan menambahkan cengiran diakhir. “Hari ini apa rencanamu?”. Tanyaku padanya sembari melahap sarapan buatannya. “Mollayo, mungkin aku akan menemui Yong Woo oppa”. Jawabnya riang. Lagi-lagi Yong Woo, ingin sekali aku membongkar kedok namja itu didepan Xi Hyun. Tapi aku tak bisa melakukannya, kondisi Xi Hyun mulai membaik saat ini. “Kau jangan terlalu dekat dengannya, kau akan terluka jika dekat-dekat dengannya”. Tanpa sadar aku mengucapkan hal itu dan membuat Xi Hyun bingung. “Apa maksudmu?”. Tanya yeoja itu. “Ah aniyo, aku pergi dulu”. Jawabku mengakhiri perbincangan yang kuyakini jika berlanjut akan semakin kacau.
Xi Hyun Pov.
Jujur saja aku terkejut melihat penampilannya, dia terlihat sangat tampan. Ada apa denganku? Bisa-bisanya aku mengatakan kalau namja cerewet itu tampan, sadarlah Xi Hyun kau sudah gila. Hmm ngomong-ngomong apa maksud perkataannya barusan.
“Kau jangan terlalu dekat dengannya, kau akan terluka jika dekat-dekat dengannya”.
Aku tak mengerti, ada apa ini? Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Tapi apa? Aku harus mencari tau. Aku pun membereskan meja makan dan melesat masuk kamar.
Kedai Coffe.
Yong Woo Pov.
“Sedang apa kau disini?”. Tanyaku pada seorang namja. “Tentu saja untuk makan siang, kau pikir kedai ini tempat tinju?”. Jawabya. “Ah aku lupa kalau kedai ini adalah kedai langgananmu dan juga Xi Hyun”. Jawabku mengingat sesuatu. “Bagus jika kau tau”. Jawabnya dengan nada datar. Tapi ngomong-ngomong sejak kapan namja ini mengenakan setelan kantor seperti ini? Hmm lebih baik kutanyakan saja. “Wah penampilanmu lain ya sekarang?”. Tanyaku basa-basi. “Tentu saja, mulai hari ini aku meneruskan perusahaan appa, Park corporation”. Jawabnya semakin datar. “Oh jinja? Kudengar dari Xi Hyun kau menolaknya, ada angin apa kau menerima tawaran itu?”. Tanyaku semakin intens. Kudengar Park corporation adalah perusahaan yang bekerjasama dengan Choi corporation, ada kemungkinan mereka akan mengambil kembali saham Choi. “Aku ingin saja, lagi pula aku lulusan bisnis. Pekerjaan pun dibidang bisnis”. Jawabnya lagi. “Wah baiklah kalau begitu, selamat berjuang”. Ucapku hendak meninggalkannya, namun terhenti dengan ucapannya. “Xi Hyun, aku melakukan ini demi Xi Hyun”. Jawabnya sambil menatap lurus padaku. Apa maksudnya itu, bukankah dia tau Xi Hyun adalah kekasihku. “Demi Xi Hyun? Wae?”. Tanyaku sembari tersenyum padahal aku sedang menahan emosi. “Untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya”. Jawabnya dan kali ini menampilkan sebuah seringaian. Tatapan macam apa itu, sepertinya ia mengetahui sesuatu. Ya ku akui Jae Hyuk adalah orang yang sangat cerdas. “Apa maksudmu dengan kata merebut kembali?”. Tanyaku sedatar mungkin. “Kau pasti mengerti apa maksudku, kau memiliki otakkan? Oh aku ingin bertanya, apa kau benar-benar mencintai Xi Hyun?”. Perkataan namja ini mulai kacau rupanya dan apa itu? Dia mempertanyakan cintaku pada Xi Hyun? Dasar namja gila. “Tentu saja aku mencintainya, untuk apa kau mempertanyakan lagi hah”. Jawabku mulai geram sembari meminum coffe pesananku. “Kupikir kau mencintai hartanya, maka dari itu kau membunuh tuan Choi dan merampas semua hartanya”. Jawabnya sembari menajamkan pandangan matanya padaku. Aku yang tengah minum coffe pun tersedak. Apa? Namja itu mengetahui pembunuhan Hyun Yoo? Sial, bagaimana bisa bocah ini tau?. “Apa maksudmu dengan mengatakan membunuh tuan Choi?”. Tanyaku sembari menekankan kata membunuh tuan Choi. “Memangnya kau pikir aku tak tau apa yang sudah kau lakukan? Hmm kalau begitu akan kuberi sebuah penawaran padamu”. Ucapnya padaku. “Memangnya apa yang sudah kulakukan? Aku tak mengerti. Penawaran? Penawaran apa maksudmu?”. Tanyaku sedatar mungkin agar ia tak curiga. “Sudahlah jangan berpura-pura padaku, aku tau semuanya”. Jawabnya sembari melempar sebuah amplop padaku. “Apa isi amplop ini?”. Tanyaku pada namja itu. “Buka saja”. Jawabnya santai. Dan pada akhirnya aku membuka amplop itu. Dan saat kubuka, aku sungguh sangat terkejut melihat isi amplop itu. Amplop itu berisi foto-fotoku bersama namja pesuruhku. Bagaimana bisa dia mendapatkan gambar ini? Ternyata dia sangat cerdik, aku salah menilai bocah ini. Melihatku yang hanya diam membeku melihat foto-foto itu, ia pun berucap. “Kau suka dengan gambar itu? Berkediplah hyung, kau masih hidupkan?”. Ucapnya meremehkan. “Apa yang kau inginkan?”. Tanyaku padanya, aku sudah tak tahan dengan permainan ini. “Keinginanku? Mudah saja hyung”. Ucapnya. “KATAKAN APA MAUMU?”. Ucapku emosi. “Kau tenang saja hyung, akan kupastikan Xi Hyun tau dengan sendirinya. Aku tak akan memberitahunya”. Namja ini sudah gila. “KAU”. Ucapku semakin emosi. “Kau pilih saja hyung, Xi Hyun atau saham Choi. Jika kau pilih Xi Hyun, maka kembalikan semua saham miliknya. Tapi jika kau memilih saham itu, berikan Xi Hyun padaku dan jangan pernah kau menemuinya lagi”. Namja itu memberi pilihan padaku. Dan pilihan itu sungguh sangat sulit, aku mencintai Xi Hyun tapi aku sudah berjanji pada mendiam ayahku. “Kau pikirkan saja dulu hyung, tidak usah terburu-buru”. Ucapnya penuh kemenangan dan pergi meninggalkanku.
...
Author Pov.
Hari sudah mulai gelap, seorang yeoja keluar dari kamarnya dengan mengenakan gaun selutut berwarna peach senada dengan bandana yang ia kenakan menghiasi kepalanya. “Oh kau sudah pulang Hyuk-ah?”. Tanya yeoja itu. “Ne, kau mau kemana?”. Tanya namja yang sudah dapat dipastikan Jae Hyuk. “Mmm aku akan menemui Yong Woo oppa”. Ucap yeoja itu. “Malam-malam begini? Bukankah besok kau ada schedule?”. Jawab Jae Hyuk. “Ya tapi...”. Belum sempat Xi Hyun menjawab, Jae Hyuk sudah menggendong Xi Hyun untuk beristirahat. “YAK! YAK! Turunkan aku Jae Hyuk-ah”. Yeoja itu meronta-ronta dalam gendongan Jae Hyuk. “Sudah kubilang kau harus istirahat”. Jawab Jae Hyuk sembari terus menggendong Xi Hyun ke tempat istirahat. “YAK! Wae? Kenapa akhir-akhir ini kau seolah-olah melarangku menemui Yong Woo oppa”. Ujar Xi Hyun. “Sudah kubilang aku tak ingin kau terluka”. Jawab Jae Hyuk menahan emosi. “Kenapa kau selalu mengatakan hal itu, apa maksudmu dengan mengatakan tak ingin aku terluka? Kau pikir Yong Woo oppa akan menyakitiku? Katakan apa maksdumu? Apa kau mencintaiku?”. Deretan pertanyaan Xi Hyun membuat Jae Hyuk semakin emosi. “Ne, dangsineun saranghamnida. Aku tak akan membiarkan dia menyakitimu lebih dari ini”. Teriak Jae Hyuk sembari meninggalkan Xi Hyun yang mematung dengan ucapannya.
TBC
NB      : Arti dari kata-kata korea di atas
1.    Anjuseoyo (Duduklah)
2.    Daebak (Hebat)
3.    Fighting ne (Semangat ya)
4.    Jugule (Kau ingin mati)
5.    Dangsineun saranghamnida (Aku mencintaimu).

                                                                     Preview
“Foto apa itu Hyuk-ah”
“Bukan apa-apa, itu tidak penting. Akan kuantar kau ke tempat istirahatmu”.
...
“Menurut hasil penyelidikan, tuan Choi meeninggal bukan karena kecelakaan melainkan ini sebuah pembunuhan yang dirancang seolal-olah ini adalah kecelakaan”.
“Apa? Jadi ayahku dibunuh, begitu?”.