Love
Like Monster (Chapter 8)
Main
cast :
·
Choi Xi Hyun
·
Park Jae Hyuk
·
Han Yong Woo
Genre : Relationship, Sadness,
Friendship, Romance, Triangle Love, Family.
Lenght : Chapter
Happy Reading
“Dimana kau saat aku menginginkanmu
berada di sampingku? Kemana larinya kau saat aku berjuang untuk satu-satunya
makhluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan
ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum
terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis”. - Xi Hyun.
“Aku akan selalu ada untukmu,
melindungimu”. – Jae Hyuk.
...
Jae
Hyuk Pov.
“Ada
apa dengan wajahmu? Kau begitu kusut dan tak bersemangat”. Ujarku saat
melihatnya sedang duduk di meja makan. “Aniyo, aku hanya kurang istirahat. Aku
memikirkan apa yang akan aku katakan pada konferensi pers nanti malam”. Ujarnya
padaku. “Memangnya apa yang akan kau katakan pada media?”. Tanyaku penasaran.
“Kau lihat saja nanti”. Ujarnya berdiri menuju bak cuci piring dan membersihkan
piring kotor. “Baiklah kalau begitu aku akan mengantarmu nanti malam ke acara
konferensi pers”. Ujarku sebelum pergi. “Tunggu”. Ujarnya sebelum aku melangkah
meninggalkan ruang makan. “Kau tenang saja, akan kupastikan media tak melihat
kebersamaan kita. Kau pasti pusing dengan berita tentangmu dan namja
menyebalkan itu”. Ujarku mencoba meyakinkannya. “Greepp”. Xi Hyun memelukku dan
tak mengatakan apapun. Akupun membalas pelukannya dan mencoba menenangkannya.
...
Xi
Hyun Pov.
“Annyeong,
saya Choi Xi Hyun imnida. Saya akan menklarifikasi tentang pemberitaan yang
saat ini sedang menjadi perbincangan”. Ujarku membuka acara. “Apa hubungan anda
dengan pengusaha bermagra Han tersebut?”. Salah satu wartawan bertanya padaku.
“Kami tak ada hubungan apapun. Presdir Han adalah kakak dari rekan kerjaku Han
Jang Woo yang sesama entertain”. Jelasku dengan wajah datar dan berharap Yong
Woo menonton acara ini, aku tak perduli ocehan Jang Woo nanti. “Lalu mengapa
anda sedang bersama presdir Han di salah satu caffe bersama presdir Han?”.
Tanya wartawan lain. “Aku sedang menyiapkan keperluan schedule bersama
seseorang. Dan saat itu aku tak sengaja bertemu dengannya”. Paparku. “Lalu
siapa seseorang yang sedang menemanimu di pusat perbelanjaan itu? Dan mengapa
ia tak ada bersamamu saat itu?”. Rentetan pertanyaan itu membuatku hampir
melemah. “Saat itu dia sedang pergi ke kamar kecil, dia menyuruhku untuk
mencari tempat makan lebih dulu dan akan menyusulku.dia adalah...”. aku belum
menyelesaikan ucapanku. Aku mengingat-ingat sejak masa sekolah menengah
pertama, saat dia dibully, saat dia berubah penampilan bahkan saat dia selalu
ada untukku, menjagaku, menghiburku, menghapus airmataku, memelukku kala aku
menangis, melakukan segala hal untukku dan saat ini dia tengah berjuang demi
masa depanku tanpaku ketahui. “Choi Xi Hyun-ssi?”. Salah satu wartawan
membuyarkan lamunanku. “Ne?”. Akupun tersadar dari lamunanku. “Saya ulangi,
siapa seseorang yang tengah menemani anda saat itu?”. Ujar wartawan itu sekali
lagi. “Dia adalah.. dia adalah tunanganku. Namanya Park Jae Hyuk”. Ujarku
menyelesaikan konferensi pers.
...
Yong
Woo Pov.
“Dia
adalah.. dia adalah tunanganku. Namanya Park Jae Hyuk”. Ujar Xi Hyun mengakhiri
konferensi pers. “Kebohongan apa yang kau ucapkan Xi Hyun-ah? Kau tak
mengakuiku?”. Ujarku kesal dan mematikan televisi. “Kau kenapa marah hyung?”.
Ujar Jang Woo yang berada di ruangan yang sama. Aku tak ingat jika dia juga ada
di ruangan ini. “Aku tak habis pikir. Dia bilang dia tak ada hubungan denganku?
Dia bahkan pernah menjalin cinta denganku Jang Woo”. Kesalku. “Mungkin dia
kecewa padamu karena tiba-tiba berubah dan memutuskannya”. Ujar Jang Woo
meninggalkanku menuju kamarnya. “Apa-apaan ini? Kenapa harus bocah tengik itu
yang Xi Hyun akui?”. Batinku menahan amarah.
...
Jae
Hyuk Pov.
“Dia
adalah.. dia adalah tunanganku. Namanya Park Jae Hyuk”. Ujar Xi Hyun mengakhiri
konferensi pers. “Mwo? Naega?”. Aku merasa kaget karena ucapan Xi Hyun saat
mengakhiri konferensi pers. “Aku pulang”. Xi Hyun sudah sampai di rumah dan
membuatku berlari menghampirinya. “Xi Hyun-ah”. Panggilku saat sudah berada
dihadapannya. “Mwo?”. Jawabnya. “Wae? Kenapa kau berbohong?”. Tanyaku. “Bohong?
Maksudmu?”. Tanyanya tak mengerti. “Kenapa kau mengatakan kau tak ada hubungan
dengan namja itu dan kau malah mengatakan akulah yang berhubungan denganmu?”.
Tanyaku padanya yang masih saja tak berekspresi. “Aku memang sudah tak ada
hubungan apapun lagi dengannyakan?”. Jawabnya tenang. “Ne arra arra Xi Hyun-ah.
Tapi pernyataanmu mengenai hubungan kita?”. Ujarku. “Kau tak mau mengakui
perasaanmu padaku Hyuk-ah?”. Ucapannya membuatku terkejut. “Kenapa kau diam
Hyuk-ah? Apa kau tak menyukaiku?”. Tanyanya dengan wajah mulai berekspresi.
“Bukan begitu Xi Hyun-ah, bukan begitu”. Ujarku. “Lalu apa? Kalau kau tak
menyukaiku, kau tak akan repot-repot mengurusku”. Ujarnya. “Itu karena, itu
karena hanya aku keluargamu yang tersisa”. Ujarku mulai frustasi dan bingung
harus mulai dari mana. “Aku tau semuanya Jae Hyuk-ah. Saat kau mulai melarangku
menemui Yong Woo oppa, saat kau membentakku dengan alasan kau mencintaiku. Lalu
kau juga menjagaku, melindungiku, terlebih lagi kau menelusuri kasus kematian
ayahku”. Jelasnya membuatku kaget. “Menelusuri?”. Aku mulai penasaran dengan
apa yang akan ia katakan. “Han Yong Woo lah yang menyuruh seeseorang untuk
memutus kabel rem mobil appa, kau juga menyimpan foto Yong Woo oppa bersama
seorang namja yang ada dalam rekaman kotak black box mobil appa”. Xi Hyun mulai
berbicara. “Jadi kau sudah tahu?”. Ujarku merasa bersalah. “Kau tak perlu
merasa bersalah Hyuk-ah. Aku sudah curiga dengan gerak-gerikmu selama ini, dan
aku juga diam-diam mengawasimu, meminta tuan Lee untuk membantumu”. Ujarnya
yang membuatku semakin kaget. “Mianhae Xi Hyun-ah”. Ujarku sembari menundukkan
kepalaku. “Gwenchana. Sebelum mengetahui semua ini aku memang sudah menyuruh
tuan Lee membantumu. Aku merasa ada yang aneh saat tuan Lee mengatakan kau
menanyakan kondisi mobil appa sebelum kecelakaan dan tuan Lee juga mengatakan
kau akan mengembalikan semuanya yang menjadi milikku”. Ujarnya sembari memegang
pipiku. “Nan gwenchana Hyuk-ah. Gomawo”. Xi Hyun tersenyum lembut padaku.
Akupun memegang kedua tangannya yang menyentuh pipiku. Aku memeluknya, memeluk
yeoja yang selama ini kucintai. “Saranghae”. Ujarku saat aku memeluknya.
...
Ke esokan harinya
Author
Pov.
“Annyeong”.
Seorang namja mengejutkan Xi Hyun yang tengah asyik memasakn. “YAK! Kau
mengagetkanku tau”. Ujar Xi Hyun pada Jae Hyuk yang tengah emeluknya dari
belakang. “Kau masak apa hari ini?”. Tanya Jae Hyuk yang masih tetap memeluk Xi
Hyun dari belakang. “Aku memasang nasi campur dan telur gulur”. Ujar Xi Hyun
masih berkutat dengan memasak. Meski Jae Hyuk memeluknya dari belakang, itu tak
menjadi penghalang baginya menyelesaikan sarapan pagi ini. “Sepertinya enak.
Aku sudah lapar”. Jae Hyuk tak sabar menyantap sarapan buatan Xi Hyun.
“Duduklah, aku akan membawakannya untuk mu”. Ujar Xi Hyun.
...
Jae
Hyuk Pov.
“Kenapa
kau diam saja? Bukankah kau tadi bilang sangat lapar?”. Ujar Xi Hyun. “Kau tak
ingin menyuapiku?”. Tanyaku dengan sebuah cengiran. “Kenapa aku harus
menyuapimu? Memangnya kau ini bayi?”. Jawabnya sembari tertawa. “Oh ayolah..
bukankah kita ini pasangan baru?”. Ujarku. “Pasangan baru?”. Tanyanya. “Ne,
kemarin kau bilang aku ini tunanganmu saat konferensi pers”. Jawabku. “Baiklah
baik, aku akan menyuapimu. Buka mulutmu”. Akhirnya dia menyerah. “Aaaaaa”. Aku
membuka mulutku lebar-lebar menyambut suapan cinta darinya. “Enak?”. Tanyanya
memastikan. “Enak sekali”. Jawabku jujur. Aku merasa bahagia hari ini, Xi Hyun
sekarang akan tetap bersamaku. Aku tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya,
kupikir aku akan terus menyimpan perasaan ini. Tapi ternyata sekarang aku dan
Xi Hyun benar-benar menjalin hubungan, bukan sekedar sahabat dari sejak sekolah
menengah pertama dan bukan juga keluarga Xi Hyun yang tersisa.
...
Xi
Hyun Pov.
“Hati-hati
dijalan Hyuk-ah”. Ujarku pada namja yang benar-benar berarti bagiku. “Ne
arraseo chagiya”. Ujarnya riang dan membuatku tertawa. “Kau sungguh menggelikan
Hyuk-ah. Jae Hyuk-ah, kapan kau akan melapor mengenai kasus ini?”. Tanyaku
was-was. “Aku akan melaporkannya, tapi tidak sekarang. Mengingat kondisi saham
yang benar-benar dikuasai olehnya. Bersabarlah sedikit”. Ujarnya menenangkanmu.
“Baiklah”. Ujarku padanya. CUP. Jae Hyuk mencium keningku sebelum pergi
bekerja. Dan aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
...
Author
Pov.
“Bisakah
aku bertemu tuan park?”. Ujar Xi Hyun pada sekertaris Jae Hyuk. “Anda pasti
nona Xi Hyun aktris terkenal itu bukan”. Ujar sekertaris Im. “Ne, bisakah aku
menemuinya”. Tanya Xi hyun sekali lagi. “Saat ini tuan Park sedang ada rapat,
tapi kau bisa menunggunya di dalam”. Seru sekertaris Im. “Terima kasih. Apa aku
bisa minta sesuatu darimu?”. Tanya Xi Hyun. “Apa ada yang bisa saya bantu lagi
nona?”. Ujar sekertaris Im. “Tolong jangan katakan aku berada di sini pada tuan
Park”. Pinta Xi Hyun. “Baik nona”. Jawab sekertaris Im.
...
Jae
Hyuk Pov.
“Kenapa
kau bisa ada di sini?”. Ujar Jae Hyuk kaget mendapati Xi Hyun tengah duduk di
kursi ruangannya. “Aku hanya ingin mengunjungimu. Aku mengantarkan makan
siang”. Ujar yeoja dihadapanku. “Jinja? Wah kau benar-benar calon istri yang
hebat”. Ujarku sembari bertepuk tangan. “Makanlah selagi panas. Aku takkan
lama, karena aku harus membeli beberapa keperluanku”. Ujarnya yang membuatku
tak rela dia pergi sedetikpun. “Aku bisa mengantarmu”. Ujarku. “Jika kau
mengantarku lalu bagaimana kau bisa mengelola perusahaan? Lagipula kita akan
sering bertemu di rumah”. Ujarnya sembari mengedipkan sebelah matanya padaku.
“Baiklah nyonya park. Kau lolos hari ini”. Ujarku menyerah. “Aku pergi”. Dia
meninggalkanku di ruang kerja perusahaan.
...
Yong
Woo Pov.
“Wah
wah wah. Ada apa seorang aktris terkenal berada di sebuah perusahaan?”. Ujarku
saat bertemu yeoja yang sempat membuatku kesal karena kebohongannya di media.
“Memangnya siapa kau berani mengaturku?. Ujarnya ketus. “Kau benar-benar
berubah Xi Hyun-ah. Apa karena bocah tengik itu?”. Aku mulai kesal. “Kau
sendiri yang berubah. Lagipula apa urusanmu jika aku menemui Jae Hyuk di
Kantornya? Seharusnya aku yang bertanya apa yang oppa lakukan di sini?”. Yeoja
lembut itu berubah menjadi dingin padaku. “Memang tak ada hubungannya denganku.
Tapi kau sudah membuat kebohongan publik”. Ujarku menahan amarah. “Membohongi
publik? Dalam hal apa? Aku rasa aku sama sekali tak membohongi publik”. Ujarnya
santai. “Benarkah? Lalu apa maksudmu mengatakan kita tak punya hubungan apapun
dan kau lebih berbohong mengenai statusmu yang bertunangan dengan bocah tengik
itu?”. Ujarku sinis. “Dengar presdir Han, akan kuberitahu apa itu kebohongan.
Pertama, kita memang tak punya hubungan apapun sekarang, aku yakin kau masih
mengingat dengan sangat jelas saat kau memutuskan hubungan denganku. Kedua, dia
bukan bocah tengik, namanya Jae Hyuk, Park Jae Hyuk. Ketiga, aku dan Jae Hyuk
memang memiliki hubungan. Terakhir, bukankah kau sendiri yang berbohong pada
publik mengenai apa yang kau lakukan padaku, keluargaku dan masa depanku.
Permisi presdir Han”. Pamitnya. “Apa maksud ucapannya yang terakhir?”. Heranku
dan bergegas pergi.
...
TBC