Love
Like Monster (Chapter 6)
Main
cast :
·
Choi Xi Hyun
·
Park Jae Hyuk
·
Han Yong Woo
Genre : Relationship, Sadness,
Friendship, Romance, Triangle Love, Family.
Lenght : Chapter
Happy Reading
“Dimana kau saat aku menginginkanmu
berada di sampingku? Kemana larinya kau saat aku berjuang untuk satu-satunya
makhluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan
ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum
terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis”. - Xi Hyun.
“Aku akan selalu ada untukmu,
melindungimu”. – Jae Hyuk.
...
Jae
Hyuk Pov.
“Apa?
Xi Hyun dari sejak pagi keluar rumah dan tak ada satupun orang yang
menyadarinya?”. Aku terkejut mendengar penuturan bibi Jung ketika menelpon
rumah karena Xi Hyun tak menjawab panggilannya. “Maafkan saya tuan”. Sesal Bibi
Jung. “Baiklah, aku akan mencarinya”. Ujarku. “Kemana yeoja itu? Seharian ini
tak ada di rumah”. Pikirku sembari menyambar jas kerjaku dan berlalu dari
ruangan.
...
Xi
Hyun Pov.
“Menurut
hasil penyelidikan, tuan Choi meninggal bukan karena kecelakaan melainkan ini
sebuah pembunuhan yang dirancang seolal-olah ini adalah kecelakaan”. Ujar ketua
polisi menjelaskan padaku. “Apa? Jadi ayahku dibunuh, begitu?”. Tanyaku mencoba
meyakinkan pendengaranku tak salah. “Menurut hasil penyelidikan kemungkinan
seperti itu, tapi kami berusaha untuk menyelidiki lebih dalam lagi tentang
kasus ini. Jika memang pembunuhan, kami harus mencari tahu siapa pelaku dan apa
motif dari pembunuhan ini”. Jawab ketua polisi lebih jelas dan membuatku
semakin gelisah.
...
Yong
Woo Pov.
“Kriiing
kriiing”. Ponselku berbunyi memunculkan nomor yang tak dikenal. “Yeobseoyo?”.
Jawabku menerima telepon itu. “Kau tak memberiku jawaban atas penawaranku, itu
artinya kau lebih memilih saham Choi. Baiklah tuan Han, semoga kau tak pernah
menemui Xi Hyun lagi”. Serbu namja yang aku yakini adalah Jae Hyuk, karena
hanya kami yang tau akan kesepakatan itu. “Tau darimana kau nomor ponselku?”.
Tanyaku menahan emosi. “Kau tak perlu tahu tuan Han. Senang bekerjasama
denganmu”. Ujar Jae Hyuk sebelum menutup sambungan. “Sial, berani-beraninya
dia”. Kesalku.
...
Author
Pov.
“Darimana
saja kau seharian ini? Berkali-kali aku menghubungimu tapi kau tak pernah
menjawabnya”. Ujar Jae Hyuk panjang lebar setelah Xi Hyun akhirnya pulang. “Aku
hanya berjalan-jalan, aku bosan di rumah. Ajhussi dinas di luar kota dan kau
sibuk dengan pekerjaanmu. Aku butuh hiburan sebelum menjalankan schedule minggu
depan. Kau tau banyak artis yang mati bunuh diri karena stres dan kurang
piknik? Kau ingin aku seperti itu?”. Ujar Xi Hyun berbohong. “Mianhae Xi
Hyun-ah, aku sangat sibuk dan melupakanmu. Tapi lain kali bisakah kau
memberitahuku agar aku tak khawatir? Paling tidak aku bisa ijin keluar untuk
menemanimu”. Jelas Jae Hyuk mengkhawatirkan kondisi yeoja yang berada
dihadapannya. “Aku tak akan mengulanginya, terima kasih sudah mengkhawatirkanku
Hyuk-ah. Aku yakin jika tak ada kau, akan jadi apa aku ini”. Ujar Xi Hyun
sebelum pergi menuju kamarnya.
...
Ke esokan harinya
Xi
Hyun Pov.
“Kau
sudah bangun?”. Tanyaku pada namja yang baru saja muncul dari singgahsananya.
“Kalau aku belum bangun, lalu orang yang ada dihadapanmu ini siapa?”. Cengirnya
sembari menyambar sarapan yang kubuat. “Ya kuakui sejak kau meneruskan
perusahaan ajhussi, kau selalu bangun pagi. Padahal dulu kau sangat susah untuk
bangun, aku bahkan harus menambah kecepatan laju mobilku dari rumah menuju
rumahmu hanya untuk membangunkan beruang tidur”. Ejekku pada Jae Hyuk. “YAK!
Apa kau bilang? Beruang? Kau tidak lihat begitu tampannya aku? Enak saja kau
bilang beruang tidur”. Kesalnya karena ejekanku. “Hahahaha baiklah tuan tampan,
pukul berapa kau akan pergi bekerja?”. Tanyaku menanyakan jadwalnya. “sebentar
lagi. Hah aku benar-benar pusing dengan rutinitas ini”. Keluhnya. “Bersabarlah,
aku yakin kau akan terbiasa”. Aku menyemangatinya sembari mengusap tangannya.
“Baiklah, aku sudah selesai sarapan. Aku pergi dulu, kau jangan berkeliaran tak
jelas lagi arrachi?”. Nasihatnya padaku dan berlalu meninggalkanku. Tapi ia
kembali lagi lalu mengecup puncak kepalaku dan kembali berlalu meninggalkan aku
yang terdiam membeku dengan tingkahnya padaku.
...
Jae
Hyuk Pov.
Aku
tersenyum dengan apa yang kulakukan padanya tadi sebelum pergi bekerja. Aku tak
peduli dia bertanya-tanya kenapa mencium puncak kepalanya, yang jelas aku
merasa senang. “Kriiing kriiing”. Suara ponselku yang menunjukan tuan Lee
menghubungiku. “Yeobseoyo”. Jawabku. “Tuan, aku memiliki informasi lain
mengenai presdir Han”. Jawab tuan Lee. “Baiklah, aku dalam perjalanan
menemuimu”. Ujarku pada tuan Lee.
...
Author
Pov.
“Jae
Hyuk sudah pergi bekerja, ini kesempatanku untuk mencari tahu. Siapa tau di
ruang kerjanya ada informasi mengenai kecelakaan appa”. Ujar Xi Hyun lalu
memasuki ruang kerja Jae Hyuk. “Nona sedang apa di sini?”. Ujar bibi Jung
mengagetkan Xi Hyun yang sedang berada di ruang kerja Jae Hyuk. “ A-aku sedang
membereskan ruangan ini, kemarin aku menjatuhkan antingku dan aku mencarinya
sembari membereskannya”. Ujar Xi Hyun berbohong. “Kenapa nona tak bilang, saya
bisa mencarinya”. Ujar bibi Jung ikut mencari. “Tidak perlu bibi Jung,
pekerjaanmu sudah banyak. Aku hanya tak ingin merepotkanmu”. Ujar Xi Hyun mulai
gelisah. “Baiklah nona kalau begitu”. Ujar bibi Jung meninggalkan ruang kerja
Jae Hyuk. “Hah untunglah, mianhae bibi Jung. Aku harus mulai mencari dari
mana”. Pikir Xi Hyun. “Ah beberapa hari yang lalu aku melihat foto dalam amplop
yang sedikit terbuka di atas meja. Lalu Jae Hyuk langsung memasukkannya dalam
laci dan menguncinya. Akan kucoba mulai dari sana”. Ujar Xi Hyun sembari menuju
laci yang dimaksud.
...
Xi
Hyun Pov.
“Aneh
sekali, aku yakin Jae Hyuk menaruhnya dilaci ini dan menguncinya. Tapi sekarang
kunci itu tertancap dalam lubang kunci dan amplop berisi foto itu tak ada di
dalamnya.” Heranku sembari mengedarkan penglihatanku pada isi dalam ruangan
ini. “Brangkas? Sejak kapan di ruangan ini ada brangkas? Beberapa hari yang
lalu saat aku melihat amplop berisi foto itu, tak ada brangkas di ruangan ini”.
Ujarku. “Apa jangan-jangan amplop itu ada dalam brangkas? Baiklah akan kucoba”.
Ujarku mencoba membuka Brangkas itu. “Ternyata membuka brangkas ini harus
menggunakan sandi. Dasar Jae Hyuk pabbo”. Geramku mencoba memasukkan beberapa
digit angka untuk membuka brangkas itu. “Apa kata sandinya? Hari lahir Jae Hyuk
sudah kucoba, hari lahir ajhussi dan ajhumma sudah kucoba, mengacak nomor juga
tetap tak terbuka”. Ujarku frustasi. Lalu aku mengingat hari dimana Jae Hyuk
membentakku dan mengatakan jika ia mencintaiku. “Apa jangan-jangan”. Ujarku
terpotong dan mengetik beberapa digit angka. Aku terkejut karena akhirnya
brangkas itu terbuka, dan yang semakin membuatku terkejut adalah kode sandi
brangkas itu adalah hari lahirku. Tanpa pikir panjang aku mulai mencari amplop
berisi foto itu. “Ketemu”. Ujarku riang dan mulai membuka amplop itu. “Ini Yong
Woo oppa? Dan siapa orang di sampingnya itu? Kenapa Jae Hyuk menyimpan gambar
ini?”. Tanyaku pada diriku sendiri.
...
Yong
Woo Pov.
“Kriingg
kriiingg”. Ponselku berbunyi menunjukan ada orang yang menghubungiku. “Xi
Hyun?”. Ujarku sembari melihat nama penelpon yang tertera dalam ponselku.
“Mianhae Xi Hyun-ah. Aku terpaksa meninggalkanmu”. Ujarku sakratis dan
me-non-aktifkan ponselku.
...
Jae
Hyuk Pov.
“Katakanlah
tuan Lee”. Ujarku to the point. “Begini
tuan Jae Hyuk, saya mendapat kabar bahwa ayah dari presdir Han meninggal karena
serangan jantung akibat mengalami kebangkrutan”. Jelas tuan Lee.
“kebangkrutan?”. Tanyaku mulai penasaran. “Benar tuan, ayah dari presdir Han
meninggal karena serangan jantung akibat kebangkrutan. Beliau ditipu oleh rekan
kerjanya dan saat itu usia presdir Han masih 10 tahun”. Jelas tuan Lee padaku.
“Apa ada yang kau ketahui lagi selain dari itu”. Tanyaku pada tuan Lee. “Akan
saya cari tahu tuan”. Ujarnya. “Baiklah tuan Lee, terima kasih”. Ujarku
mengakhiri pertemuan.
...
Author
Pov.
“lagi-lagi
oppa menghindariku. Ada apa ini? Ini benar-benar aneh”. Ujar Xi Hyun yang tak
kunjung bisa menghubungi Yong Woo. “Kriing kriing”. Ponsel Xi Hyun berdering
dan Jae Hyuk lah nama yang tertera dalam ponsel tersebut. “Yobseoyo?”. Jawab Xi
Hyun. “Kau sudah makan? Apa kau ingin berjalan-jalan?”. Tanya Jae Hyuk. “Ah
kebetulan aku bosan di rumah dan aku lapar”. Jawab Xi Hyun jujur karena
seharian ini Xi Hyun sibuk mengobrak abrik ruang kerja Jae Hyuk. “Baiklah aku
akan menjemputmu 30 menit dari sekarang. Bersiap-siaplah”. Jawab Jae Hyuk
riang. “Baiklah, jangan lama. Kalau kau terlambat kau harus memenuhi semua
keinginanku”. Canda Xi Hyun mengakhiri sambungan.
...
Xi
Hyun Pov.
“Ternyata
kau tepat waktu juga tuan Park”. Ejekku pada namja yang berada dihadapanku.
“Tentu saja. Aku tak mungkin membuatmu menunggu”. Ujarnya dengan bangga.
“Kupikir kau tak keberatan jika harus memenuhi semua keinginanku karena kau
terlambat”. Ujarku sembari mengerucutkan bibirku. “Aku akan memenuhi semua
keinginanmu tanpa harus terlambat menjemputmu”. Jawabnya yang entah kenapa
kusukai. Jae Hyuk selalu memanjakanku, selalu melakukan apa yang kuminta. Aku
bahkan heran, sebenarnya yang kekasihku itu Yong Woo atau Jae Hyuk?
...
Jae
Hyuk Pov.
Dia
benar-benar cantik dengan menggunakan dress selutut berwarna putih, rambut
dibiarkan tergerai panjang dan jangan lupakan sepatu heels yang seada dengan
bajunya. “Ternyata kau tepat waktu juga tuan Park”. Ejeknya padaku. “Tentu saja.
Aku tak mungkin membuatmu menunggu”. Ujarku membanggakan diri. “Kupikir kau tak
keberatan jika harus memenuhi semua keinginanku karena kau terlambat”. Ujarnya
sembari mengerucutkan bibirnya, membuatku semakin gemas. “Aku akan memenuhi
semua keinginanmu tanpa harus terlambat menjemputmu”. Jawabku jujur.
...
Yong
Woo Pov.
“Terima
kasih atas kerjasamanya, tuan Kim”. Ujarku mengakhiri pertemuan kami di sebuah
caffe. “Oppa, kau ada di sini rupanya?”. Ujar seorang yeoja mengagetkanku. “Apa
yang kau lakukan di sini Xi Hyun-ah?”. Jawabku datar. “Aku hanya sedang
berjalan-jalan sekaligus mempersiapkan kebutuhan untuk schedule minggu depan.
Kupikir Jang Woo memberitahu oppa. Oppa apa kau sibuk?”. Jelasnya padaku.
“Tideak terlalu”. Ujarku dingin. “Wae oppa? Kenapa kau menghindaraiku? Oppa tau
sudah berapa lama oppa mengacuhkanku?”. Tanyanya merasa kecewa. “Lebih baik
kita akhiri saja hubungan ini. Aku sudah tak menginginkanmu lagi”. Tukasku.
“Oppa ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba meninggalkanku?”. Isak tangisnya
membuatku ingin mendekapnya, tapi aku mencoba menahannya. “Mianhae Xi Hyun-ah.
Aku terpaksa meninggalkanmu demi janjiku pada mendiang ayahku”. Ujarku dalam
hati dan lekas meninggalkannya yang terisak.
...
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar