Jumat, 26 Februari 2016

Love Like Monster (Chapter 6)



Love Like Monster (Chapter 6)
Main cast       :
·         Choi Xi Hyun
·         Park Jae Hyuk
·         Han Yong Woo
Genre             : Relationship, Sadness, Friendship, Romance, Triangle Love, Family.
Lenght           : Chapter
Happy Reading
“Dimana kau saat aku menginginkanmu berada di sampingku? Kemana larinya kau saat aku berjuang untuk satu-satunya makhluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis”. - Xi Hyun.
“Aku akan selalu ada untukmu, melindungimu”. – Jae Hyuk.
...
Jae Hyuk Pov.
“Apa? Xi Hyun dari sejak pagi keluar rumah dan tak ada satupun orang yang menyadarinya?”. Aku terkejut mendengar penuturan bibi Jung ketika menelpon rumah karena Xi Hyun tak menjawab panggilannya. “Maafkan saya tuan”. Sesal Bibi Jung. “Baiklah, aku akan mencarinya”. Ujarku. “Kemana yeoja itu? Seharian ini tak ada di rumah”. Pikirku sembari menyambar jas kerjaku dan berlalu dari ruangan.
...
Xi Hyun Pov.
“Menurut hasil penyelidikan, tuan Choi meninggal bukan karena kecelakaan melainkan ini sebuah pembunuhan yang dirancang seolal-olah ini adalah kecelakaan”. Ujar ketua polisi menjelaskan padaku. “Apa? Jadi ayahku dibunuh, begitu?”. Tanyaku mencoba meyakinkan pendengaranku tak salah. “Menurut hasil penyelidikan kemungkinan seperti itu, tapi kami berusaha untuk menyelidiki lebih dalam lagi tentang kasus ini. Jika memang pembunuhan, kami harus mencari tahu siapa pelaku dan apa motif dari pembunuhan ini”. Jawab ketua polisi lebih jelas dan membuatku semakin gelisah.
...
Yong Woo Pov.
“Kriiing kriiing”. Ponselku berbunyi memunculkan nomor yang tak dikenal. “Yeobseoyo?”. Jawabku menerima telepon itu. “Kau tak memberiku jawaban atas penawaranku, itu artinya kau lebih memilih saham Choi. Baiklah tuan Han, semoga kau tak pernah menemui Xi Hyun lagi”. Serbu namja yang aku yakini adalah Jae Hyuk, karena hanya kami yang tau akan kesepakatan itu. “Tau darimana kau nomor ponselku?”. Tanyaku menahan emosi. “Kau tak perlu tahu tuan Han. Senang bekerjasama denganmu”. Ujar Jae Hyuk sebelum menutup sambungan. “Sial, berani-beraninya dia”. Kesalku.
...
Author Pov.
“Darimana saja kau seharian ini? Berkali-kali aku menghubungimu tapi kau tak pernah menjawabnya”. Ujar Jae Hyuk panjang lebar setelah Xi Hyun akhirnya pulang. “Aku hanya berjalan-jalan, aku bosan di rumah. Ajhussi dinas di luar kota dan kau sibuk dengan pekerjaanmu. Aku butuh hiburan sebelum menjalankan schedule minggu depan. Kau tau banyak artis yang mati bunuh diri karena stres dan kurang piknik? Kau ingin aku seperti itu?”. Ujar Xi Hyun berbohong. “Mianhae Xi Hyun-ah, aku sangat sibuk dan melupakanmu. Tapi lain kali bisakah kau memberitahuku agar aku tak khawatir? Paling tidak aku bisa ijin keluar untuk menemanimu”. Jelas Jae Hyuk mengkhawatirkan kondisi yeoja yang berada dihadapannya. “Aku tak akan mengulanginya, terima kasih sudah mengkhawatirkanku Hyuk-ah. Aku yakin jika tak ada kau, akan jadi apa aku ini”. Ujar Xi Hyun sebelum pergi menuju kamarnya.
...
Ke esokan harinya
Xi Hyun Pov.
“Kau sudah bangun?”. Tanyaku pada namja yang baru saja muncul dari singgahsananya. “Kalau aku belum bangun, lalu orang yang ada dihadapanmu ini siapa?”. Cengirnya sembari menyambar sarapan yang kubuat. “Ya kuakui sejak kau meneruskan perusahaan ajhussi, kau selalu bangun pagi. Padahal dulu kau sangat susah untuk bangun, aku bahkan harus menambah kecepatan laju mobilku dari rumah menuju rumahmu hanya untuk membangunkan beruang tidur”. Ejekku pada Jae Hyuk. “YAK! Apa kau bilang? Beruang? Kau tidak lihat begitu tampannya aku? Enak saja kau bilang beruang tidur”. Kesalnya karena ejekanku. “Hahahaha baiklah tuan tampan, pukul berapa kau akan pergi bekerja?”. Tanyaku menanyakan jadwalnya. “sebentar lagi. Hah aku benar-benar pusing dengan rutinitas ini”. Keluhnya. “Bersabarlah, aku yakin kau akan terbiasa”. Aku menyemangatinya sembari mengusap tangannya. “Baiklah, aku sudah selesai sarapan. Aku pergi dulu, kau jangan berkeliaran tak jelas lagi arrachi?”. Nasihatnya padaku dan berlalu meninggalkanku. Tapi ia kembali lagi lalu mengecup puncak kepalaku dan kembali berlalu meninggalkan aku yang terdiam membeku dengan tingkahnya padaku.
...
Jae Hyuk Pov.
Aku tersenyum dengan apa yang kulakukan padanya tadi sebelum pergi bekerja. Aku tak peduli dia bertanya-tanya kenapa mencium puncak kepalanya, yang jelas aku merasa senang. “Kriiing kriiing”. Suara ponselku yang menunjukan tuan Lee menghubungiku. “Yeobseoyo”. Jawabku. “Tuan, aku memiliki informasi lain mengenai presdir Han”. Jawab tuan Lee. “Baiklah, aku dalam perjalanan menemuimu”. Ujarku pada tuan Lee.
...
Author Pov.
“Jae Hyuk sudah pergi bekerja, ini kesempatanku untuk mencari tahu. Siapa tau di ruang kerjanya ada informasi mengenai kecelakaan appa”. Ujar Xi Hyun lalu memasuki ruang kerja Jae Hyuk. “Nona sedang apa di sini?”. Ujar bibi Jung mengagetkan Xi Hyun yang sedang berada di ruang kerja Jae Hyuk. “ A-aku sedang membereskan ruangan ini, kemarin aku menjatuhkan antingku dan aku mencarinya sembari membereskannya”. Ujar Xi Hyun berbohong. “Kenapa nona tak bilang, saya bisa mencarinya”. Ujar bibi Jung ikut mencari. “Tidak perlu bibi Jung, pekerjaanmu sudah banyak. Aku hanya tak ingin merepotkanmu”. Ujar Xi Hyun mulai gelisah. “Baiklah nona kalau begitu”. Ujar bibi Jung meninggalkan ruang kerja Jae Hyuk. “Hah untunglah, mianhae bibi Jung. Aku harus mulai mencari dari mana”. Pikir Xi Hyun. “Ah beberapa hari yang lalu aku melihat foto dalam amplop yang sedikit terbuka di atas meja. Lalu Jae Hyuk langsung memasukkannya dalam laci dan menguncinya. Akan kucoba mulai dari sana”. Ujar Xi Hyun sembari menuju laci yang dimaksud.
...
Xi Hyun Pov.
“Aneh sekali, aku yakin Jae Hyuk menaruhnya dilaci ini dan menguncinya. Tapi sekarang kunci itu tertancap dalam lubang kunci dan amplop berisi foto itu tak ada di dalamnya.” Heranku sembari mengedarkan penglihatanku pada isi dalam ruangan ini. “Brangkas? Sejak kapan di ruangan ini ada brangkas? Beberapa hari yang lalu saat aku melihat amplop berisi foto itu, tak ada brangkas di ruangan ini”. Ujarku. “Apa jangan-jangan amplop itu ada dalam brangkas? Baiklah akan kucoba”. Ujarku mencoba membuka Brangkas itu. “Ternyata membuka brangkas ini harus menggunakan sandi. Dasar Jae Hyuk pabbo”. Geramku mencoba memasukkan beberapa digit angka untuk membuka brangkas itu. “Apa kata sandinya? Hari lahir Jae Hyuk sudah kucoba, hari lahir ajhussi dan ajhumma sudah kucoba, mengacak nomor juga tetap tak terbuka”. Ujarku frustasi. Lalu aku mengingat hari dimana Jae Hyuk membentakku dan mengatakan jika ia mencintaiku. “Apa jangan-jangan”. Ujarku terpotong dan mengetik beberapa digit angka. Aku terkejut karena akhirnya brangkas itu terbuka, dan yang semakin membuatku terkejut adalah kode sandi brangkas itu adalah hari lahirku. Tanpa pikir panjang aku mulai mencari amplop berisi foto itu. “Ketemu”. Ujarku riang dan mulai membuka amplop itu. “Ini Yong Woo oppa? Dan siapa orang di sampingnya itu? Kenapa Jae Hyuk menyimpan gambar ini?”. Tanyaku pada diriku sendiri.
...
Yong Woo Pov.
“Kriingg kriiingg”. Ponselku berbunyi menunjukan ada orang yang menghubungiku. “Xi Hyun?”. Ujarku sembari melihat nama penelpon yang tertera dalam ponselku. “Mianhae Xi Hyun-ah. Aku terpaksa meninggalkanmu”. Ujarku sakratis dan me-non-aktifkan ponselku.
...
Jae Hyuk Pov.
“Katakanlah tuan Lee”. Ujarku to the point. “Begini tuan Jae Hyuk, saya mendapat kabar bahwa ayah dari presdir Han meninggal karena serangan jantung akibat mengalami kebangkrutan”. Jelas tuan Lee. “kebangkrutan?”. Tanyaku mulai penasaran. “Benar tuan, ayah dari presdir Han meninggal karena serangan jantung akibat kebangkrutan. Beliau ditipu oleh rekan kerjanya dan saat itu usia presdir Han masih 10 tahun”. Jelas tuan Lee padaku. “Apa ada yang kau ketahui lagi selain dari itu”. Tanyaku pada tuan Lee. “Akan saya cari tahu tuan”. Ujarnya. “Baiklah tuan Lee, terima kasih”. Ujarku mengakhiri pertemuan.
...
Author Pov.
“lagi-lagi oppa menghindariku. Ada apa ini? Ini benar-benar aneh”. Ujar Xi Hyun yang tak kunjung bisa menghubungi Yong Woo. “Kriing kriing”. Ponsel Xi Hyun berdering dan Jae Hyuk lah nama yang tertera dalam ponsel tersebut. “Yobseoyo?”. Jawab Xi Hyun. “Kau sudah makan? Apa kau ingin berjalan-jalan?”. Tanya Jae Hyuk. “Ah kebetulan aku bosan di rumah dan aku lapar”. Jawab Xi Hyun jujur karena seharian ini Xi Hyun sibuk mengobrak abrik ruang kerja Jae Hyuk. “Baiklah aku akan menjemputmu 30 menit dari sekarang. Bersiap-siaplah”. Jawab Jae Hyuk riang. “Baiklah, jangan lama. Kalau kau terlambat kau harus memenuhi semua keinginanku”. Canda Xi Hyun mengakhiri sambungan.
...
Xi Hyun Pov.
“Ternyata kau tepat waktu juga tuan Park”. Ejekku pada namja yang berada dihadapanku. “Tentu saja. Aku tak mungkin membuatmu menunggu”. Ujarnya dengan bangga. “Kupikir kau tak keberatan jika harus memenuhi semua keinginanku karena kau terlambat”. Ujarku sembari mengerucutkan bibirku. “Aku akan memenuhi semua keinginanmu tanpa harus terlambat menjemputmu”. Jawabnya yang entah kenapa kusukai. Jae Hyuk selalu memanjakanku, selalu melakukan apa yang kuminta. Aku bahkan heran, sebenarnya yang kekasihku itu Yong Woo atau Jae Hyuk?
...


Jae Hyuk Pov.
Dia benar-benar cantik dengan menggunakan dress selutut berwarna putih, rambut dibiarkan tergerai panjang dan jangan lupakan sepatu heels yang seada dengan bajunya. “Ternyata kau tepat waktu juga tuan Park”. Ejeknya padaku. “Tentu saja. Aku tak mungkin membuatmu menunggu”. Ujarku membanggakan diri. “Kupikir kau tak keberatan jika harus memenuhi semua keinginanku karena kau terlambat”. Ujarnya sembari mengerucutkan bibirnya, membuatku semakin gemas. “Aku akan memenuhi semua keinginanmu tanpa harus terlambat menjemputmu”. Jawabku jujur.
...
Yong Woo Pov.
“Terima kasih atas kerjasamanya, tuan Kim”. Ujarku mengakhiri pertemuan kami di sebuah caffe. “Oppa, kau ada di sini rupanya?”. Ujar seorang yeoja mengagetkanku. “Apa yang kau lakukan di sini Xi Hyun-ah?”. Jawabku datar. “Aku hanya sedang berjalan-jalan sekaligus mempersiapkan kebutuhan untuk schedule minggu depan. Kupikir Jang Woo memberitahu oppa. Oppa apa kau sibuk?”. Jelasnya padaku. “Tideak terlalu”. Ujarku dingin. “Wae oppa? Kenapa kau menghindaraiku? Oppa tau sudah berapa lama oppa mengacuhkanku?”. Tanyanya merasa kecewa. “Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini. Aku sudah tak menginginkanmu lagi”. Tukasku. “Oppa ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba meninggalkanku?”. Isak tangisnya membuatku ingin mendekapnya, tapi aku mencoba menahannya. “Mianhae Xi Hyun-ah. Aku terpaksa meninggalkanmu demi janjiku pada mendiang ayahku”. Ujarku dalam hati dan lekas meninggalkannya yang terisak.
...
TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar