Jumat, 13 Juni 2014

Love Like Monster (Chapter 3)



Love Like Monster (Chapter 3)

Main cast       :
·         Choi Xi Hyun
·         Park Jae Hyuk
·         Han Yong Woo
Genre             : Relationship, Sadness, Friendship, Romance, Triangle Love, Family.
Lenght           : Chapter
Happy Reading
“Dimana kau saat aku menginginkanmu berada di sampingku? Kemana larinya kau saat aku berjuang untuk satu-satunya makhluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis”. - Xi Hyun.
“Aku akan selalu ada untukmu, melindungimu”. – Jae Hyuk.
...
Previous
Ku edarkan pandangan mataku disetiap sudut rumahnya, mataku tertuju pada sebuah bingkai foto di atas meja di hadapan kursi yang ku duduki. Foto itu terdiri dari seorang yeoja bersama laki-laki paruh baya. Fokusku bukan pada yeoja itu, tapi laki-laki paruh baya. “Apa? Cho-Choi Hyun Yoo?”. Gumamku kala melihat foto itu. Jadi yeoja itu, yeoja itu anak dari Choi Hyun Yoo?
...
“Braakkk”. Terdengar suara benda berserakan yang berasal dari ruang kerja Yong Woo. Ya, saat ini ia tak bisa berpikir jernih. Ruang kerja yang selalu rapih dalam keadaan berantakan bagai kapal pecah. Nafas namja itu menburu menahan amarah, bagaimana bisa ia tak tahu bahwa selama ini ayah dari yeoja yang ia cintai adalah penyebab kematian ayahnya. “Aaaaaarght”. Teriak Yong Woo frustasi. “Wae? Wae? Kenapa harus Xi Hyun? Kenapa bukan orang lain saja? Aku tak mungkin menyakiti Xi Hyun”. Gumamnya gusar. Terbersit bayangan-bayangan Xi Hyun saat tertawa, menangis, merajuk membuat Yong Woo tak karuan. Yong Woo benar-benar kacau saat ini.
...
“Annyeong”. Suara lembut seorang yeoja terdengar di telinga Jae Hyuk, ia mengenali suara itu. “Oh Xi Hyun-ah?”. Heran Jae Hyuk. “Waeyo? Kenapa wajahmu seperti itu?”. Ujar Xi Hyun. “Kau? Kenapa kau bisa ada di sini?”. Tanya Jae Hyuk. “Waseoyo?”. Tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya datang. “Ne, ajhussi”. Jawab Xi Hyun pelan. “Appa yang memanggil Xi Hyun kemari”. Jawab tuan Park melihat ekspresi jae Hyuk yang seolah mengatakan ada apa ini?. “Appa ingin Xi Hyun tinggal di sini mulai dari sekarang”. Ujar tuan Park. “Mwo? Xi Hyun akan tinggal di sini?”. Jae Hyuk tercengang dengan ucapan ayahnya. “Ne, wae? Kau keberatan?”. Tanya tuan Park. “Aniyo, tentu saja aku senang appa. Xi Hyun sahabatku, jadi aku tak akan kesepian”. Ungkapnya sembari menampilkan sebuah cengiran.
Yong Woo Pov.
Saat ini aku tengah sarapan pagi, tapi hidangan yang ada dihadapanku sama sekali tak kumakan. Aku hanya mengaduk-aduknya. “Hyung, gwenchanayo? Kau tampak kacau. Apa ada masalah?” suara Jang Woo membuyarkan lamunanku. “Nan gwenchana, hyung hanya kelelahan mengurus perusahaan”. Bohongku. “Oh jinjayo? Bagaimana hubunganmu dengan Xi Hyun? Kau taukan ayahnya meninggal?”. Tanya dongsaengku panjang lebar. “Baik, hubungan kami baik. Nan arraso, sepertinya hyung harus pergi. Ada hal yang harus hyung urus”. Jawabku sembari meninggalkan Jang woo.
Xi Hyun Pov.
Aku tengah berada di balkon lantai atas kediaman Park ajhussi. Mulai saat ini aku tinggal di sini. Aku masih tak percaya ayah meninggalkanku begitu cepat. Bulir-bulir air mataku berjatuhan mengingat kecelakaan itu.
Flash Back
“Appa bertahanlah, kau tak boleh meninggalkanku appa. Hanya kau satu-satunya yang aku miliki”. Teriakku histeris melihat kondisi ayahku begitu parah, darah dimana-mana. “Maaf nona, ayah anda sudah tiada”. Ujar uisanim. “Tidak mungkin, appa kumohon bangunlah appa. Jangan membuat lelucon seperti ini, ini sama sekali tidak lucu appa”. Aku bersikeras membangunkan ayah dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Aku benar-benar frustasi, aku berteriak lalu terisak. Dapat kurasakan seseorang mendekapku mencoba menenangkanku. “Tenanglah Xi Hyun-ah, jangan seperti ini. Aku yakin Hyun Yoo ajhussi tak suka melihatmu seperti ini”. Ujar Jae Hyuk. Aku hanya bisa menangis dan membalas dekapannya.
Flash Back End
Kurasakan seseorang sedang mencoba menyelimutiku. “Kau tak merasa kedinginan? Kau bisa sakit kalau begitu terus, Xi Hyun-ah”. Ujar Jae Hyuk sambil menyenderkan punggungnya pada pagar balkon. “Gomawo”. Hanya itu yang terlontar dariku, mulutku terlalu kelu untuk berbicara. “Sebaiknya kau segera beristirahat, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu”. Ujarnya yang hanya dibalas anggukan olehku.
Jae Hyuk Pov.
Sungguh aku sedih melihatnya seperti itu. Xi Hyun benar-benar terpukul dengan kematian Hyun Yoo ajhussi. Tapi ada sesuatu yang mengganjal menurutku. Aku merasa Hyun Yoo ajhussi meninggal bukan karena kecelakaan tapi ada seseorang dibalik semua itu. Bagaimana mungkin rem mobil Hyun Yoo ajhussi tiba-tiba tidak dapat berfungsi, sedangkan pegawai kantor Hyun Yoo ajhussi mengatakan kalau dua hari yang lalu ia diberi tugas Hyun Yoo ajhussi untuk menservis mobilnya. Aku harus mencari tahu tentang semua ini.
...
Saat ini aku sedang berada di kedai Coffe langgananku dan Xi Hyun. Aku sengaja tak mengajak Xi Hyun mengingat kondisinya saat ini. Dia benar-benar terpuruk. “Hmm kenapa dia ada disini?”. Aku melihat seseorang yang kukenal memasuki kedai dengan tergesa-gesa. Ia duduk tepat di belakangku. Ya kedai ini memiliki sekat, dan kami terpisahkan oleh sebuah sekat. Tapi tak berarti aku tak mendengar percakapan mereka. “Ada apalagi?”. Ujar namja yang ku kenal. “Ini tentang kecelakaan itu”. Ujar namja satu lagi yang entah siapa. “Kecelakaan itu? Apa maksud mereka?”. Batinku berujar. “Bisa kau pelankan suaramu? Kau tak lihat kita sedang berada dimana? Apa maumu? Apa bayaranmu kurang? Sudah kubilangkan jangan sampai orang lain tau mengenai tewasnya Hyun Yoo karena pembunuhan bukan kecelakaan”. Ujar namja yang kukenal. “Anda tenang saja, akan kupastikan semuanya tak akan terbongkar”. Ujar namja yang kuyakini adalah suruhan namja yang kukenal. “Lain kali jika kau ingin membicarakan hal ini, kau harus menentukan waktu dan tempat yang tepat. Bayaranmu akan segera kukirim, ingat jangan sampai terbongkar. Aku harus segera pergi, aku tak mau orang lain curiga”. Ujar namja yang kukenal sembari meninggalkan kedai. “Apa? Jadi benar Hyun Yoo ajhussi meninggal karena dibunuh. Dan otak dibalik ini semua adalah Han Yong Woo”. Batinku berujar. Aku benar-benar tak percaya dengan semua ini. Kenapa Yong Woo melakukan hal sekeji ini? Ini tak bisa dibiarkan. Xi Hyun, entah kenapa aku teringat Xi Hyun. Dia pasti sangat kecewa jika mengetahui kekasihnyalah yang membunuh ayahnya sendiri. Sekelebat bayangan-bayangan muncul dibenakku. Bayangan saat Xi Hyun menangis, bayangan Xi Hyun sedang mengubah penampilanku saat masih sekolah menengah pertama, bayangan ayah yang menyuruhku meneruskan perusahaan, percakapan Yong Woo dan namja suruhannya. Itu semua membuatku kesal.
Flash Back
Tok tok tok”. Aku mengetuk pintu ruang kerja ayah. “Masuklah”. Ayah menginterupsiku untuk masuk ruangannya. “Apa yang ingin appa jelaskan padaku?”. Tanyaku. “Kau masih ingat apa yang appa katakan padamu tempo hari tentang penerus perusahaan Park?”. Tanya ayah. “Ne, aku masih ingat”. Jawabku sekenannya. “Lalu apa jawabanmu?”. Ayah bertanya lagi padaku. “Kenapa appa selalu menanyakan hal itu padaku? Itu terlalu cepat appa”. Jawabku. “Mwo? Kau bilang itu terlalu cepat? Kapan kau akan dewasa kalau begitu? Kau menunggu appa mati baru kau akan meneruskan perusahaan? Lalu bagaimana nasib Xi Hyun?”. Ujar ayah panjang lebar. “Nasib Xi Hyun?”. Tanyaku heran. Kenapa dengan Xi Hyun? Batinku berujar. Ayah mengambil nafas dalam lalu menjelaskan semuanya. Saham perusahaan Choi diambil alih oleh perusahaan lain. Maka dari itu appa segera menyuruh Xi Hyun untuk tinggal di sini, karena appa tak mau Xi Hyun semakin terluka. Appa sudah menganggap Xi Hyun seperti puteri appa sendiri. Kematian Hyun Yoo sudah cukup membuatnya sangat menderita, dan appa tak ingin Xi hyun semakin terluka jika mengetahui semua harta kekayaan yang seharusnya jatuh ketangannya di ambil oleh orang-orang jahat. Kau harus menjaganya Jae Hyuk-ah. Appa sudah tua, dan appa tak mungkin mengelola perusahaan ini sendiri ditambah lagi saham perusahaan Hyun Yoo diambil alih oleh orang-orang yang tak berhati nurani. Kau pikirkan baik-baik tawaran appa untuk meneruskan perusahaan”. Ujar ayah. Masalah semakin rumit, aku harus meneruskan perusahaan lalu Xi Hyun kehilangan segalanya.
Flash Back End.
Aku harus menjaga Xi Hyun meski dengan cara memisahkan mereka. Tenanglah Xi Hyun-ah, akan ku beri dia pelajaran. Aku meninggalkan kedai coffe menuju suatu tempat, dan tak lupa menyimpan beberapa uang lembar won di atas meja kedai.
...
“Braakk”. Aku membuka pintu kantor ayah dengan kasar. “Yak! Dasar anak bodoh, sudah appa bilang kau harus mengetuk pintu sebelum masuk”. Ujar ayah. “Ini lebih penting dari sekedar mengetuk pintu appa”. Ujarku menahan emosi dan mengatur nafasku yang memburu. “Mwo? Apa yang ingin kau katakan?”. Tanya ayah. “Aku ingin meneruskan perusahaan appa”. Jawabku mantap, sedangkan ayah hanya tercengang mendengar penuturanku. “Aku akan berusaha appa”. Ujarku lagi pada ayah. “Kau serius?”. Tanya ayah. “Ne appa, aku serius”. Ujarku padanya. “Baiklah kalau begitu”. Jawab ayah. “Tunggulah Xi Hyun, semua milikmu akan kurebut kembali. Aku berjanji”. Batinku berujar.
TBC

NB      : Arti dari kata-kata korea di atas
1.    Dongsaeng (Adik)
2.    Uisanim (Dokter)

Kamis, 12 Juni 2014

Love Like Monster (Chapter 2)



Love Like Monster (Chapter 2)


Main cast       :
·         Choi Xi Hyun
·         Park Jae Hyuk
·         Han Yong Woo
Genre             : Relationship, Sadness, Friendship, Romance, Triangle Love, Family.
Lenght           : Chapter
Happy Reading
“Dimana kau saat aku menginginkanmu berada di sampingku? Kemana larinya kau saat aku berjuang untuk satu-satunya makhluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis”. - Xi Hyun.
“Aku akan selalu ada untukmu, melindungimu”. – Jae Hyuk.
...
Previous.
“Mianhae aku terlambat”. Ujar Xi Hyun saat duduk dihadapan Jae Hyuk. “Darimana saja kau? Hampir saja aku mati berbusa menuggumu”. Ujar Jae Hyuk setengah kesal. “Hari ini aku benar-benar tak fokus saat latihan, maka dari itu aku terus mengulang”. Ujar Xi Hyun sambil mengerucutkan bibir mungilnya. “Oh begitu, gwenchana? Kau ingin pesan apa?”. Ujar Jae Hyuk merasa bersalah. “Mmmm aku ingin Cappucino”. Jawab Xi Hyun. “Baiklah, kau tunggu disini ya”. Ujar Jae Hyuk sembari meninggalkan Xi Hyun untuk memesan minuman. Tak perlu menunggu waktu lama, Jae Hyuk datang membawa pesanan. “Pesanan sudah datang” ujar Jae Hyuk. “Waaaa cepat sekali, ngomong-ngomong apa yang ingin kau katakan padaku?”. Ujar Xi Hyun.
...
Xi Hyun Pov.
“Jadi kau di suruh oleh Park Ajhussi untuk meneruskan perusahaan?”. Ujar Xi Hyun pada Jae Hyuk. “Ne majjayo”. Ujar Jae Hyuk dengan lemas. “Pabbo, kau ini bodoh atau apa hah? Kenapa kau menolak?”. Ujar Xi Hyun. “Aku belum siap Xi Hyun-ah, perusahaan itu terlalu besar. Aku belum ada pengalaman apapun dalam hal bisnis meskipun aku lulusan bisnis”. Ujar Jae Hyuk. “Tapi apa salahnya jika kau mencoba? Kau tak akan pernah tau jawabannya jika kau tak mencoba”. Ucapan Xi Hyun membuat Jae Hyuk terdiam. “Akan kupikirkan”. Ujar Jae Hyuk sambil berpikir.
...
“Aku pulang”. ujar Xi Hyun saat tiba di rumah. “Nona muda, tuan choi”. Ujar tuan Jung pada Xi Hyun dengan gelisah. “Appa? Ada apa dengan appa?”. Ujar Xi Hyun penasaran. “Itu,, anu,, tuan choi”. Tuan Jung itu masih tidak memberitahu. “Tuan Jung, apa yang terjadi pada appa-ku? Kenapa wajahmu seperti itu? Katakan padaku”. Ujar Xi Hyun dengan sedikit memaksa. “Tuan choi mengalami kecelakaan”. Ujar tuan Jung. “Apa? Appa kecelakaan?”. Ujar Xi Hyun terkejut. “Ne, nona muda”. Ujar tuan Jung. Tak terasa buliran air mata jatuh membasahi pipiku, bagaimana mungkin hal itu terjadi? Bagaimana bisa?. “Nona muda, apa anda baik-baik saja?”. Pertanyaan tuan Jung membuyarkan lamunanku. “Dimana ayahku sekarang? Bawa aku padanya”. Pintaku pada tuan Jung.
...
Disinilah aku sekarang, sebuah pemakaman bertuliskan Choi Hyun Yoo. Ya, kemarin malam ayah mengalami kecelakaan dan ia tak bisa diselamatkan. Aku tak henti-hentinya menangis. Ayah adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki, ibuku meninggal saat aku berusia 5 tahun.
“Appa, wae? Wae appa? Appa sudah berjanji tak akan meninggalkanku. Tapi sekarang appa tak menepati janji”. Gumamku pada sebuah batu nisan
Jong Woo Pov.
“Bagaimana?”. Tanyaku pada anak buah yang ku suruh. “Semua berjalan sesuai dengan keinginan anda tuan, anda tidak usah khawatir. Kami melakukan semua seolah ini adalah sebuah kecelakaan bukan pembunuhan”. Ujar pesuruhku. Aku tersenyum puas mendengar kabar baik ini. “Aaaaa bagaimana kabarnya ya? Sudah hampir seminggu ini aku tak menemuinya karena urusan kantor”. Batinku berujar. “Lebih baik aku menghubunginya”. Ujarku sembari mencoba menghubunginya.
“Yobseoyo”. Ujar yeojaku yang sangat kurindukan, tapi ada apa dengan suaranya.
“Ne, yobseoyo. Mwo haseoyo?”. Tanyaku padanya.
“Eobseoyo, oppa. Mwo haseoyo?”. Jawabnya.
“Waegeure? Appokhaji?”. Tanyaku padanya, aku benar-benar khawatir pada kondisinya.
“Aniyo oppa. Naneun an-gwenchana”. Jawabnya membuatku penasaran.
“Kau dimana? Aku akan menemuimu”. Jawabku cepat, aku sungguh khawatir melihat kondisinya.
“Aku di rumah oppa, kemarilah jika kau mau”. Jawabnya lemas.
“Arraso, tunggulah”. Jawabku padanya.
...
“Annyeong”. Ujarku saat berada di rumahnya. “Oh oppa, waseoyo?”. Ujarnya menghampiriku. Dia begitu kacau sekali, ada apa dengannya? Matanya sembab seperti habis menangis. “Waeyo?”. Tanyaku penasaran. “Appa”. Ujarnya sambil menahan air mata. “Ada apa dengan ayahmu?”. Tanyaku semakin penasaran. “Semalam appa meninggal dalam sebuah kecelakaan”. Kali ini yeojaku benar-benar menangis. Akupun merengkuhnya dalam dekapanku, mencoba membuatnya tenang. “Gwenchana, ada oppa disini”. Aku benar-benar perihatin dengn kondisinya. Ia selalu menceritakan tentang ayahnya, dan itu membuatku termotivasi untuk lebih bekerja keras lagi. Ia juga menceritakan tentang hidupnya, sekarang satu-satunya keluarga yang ia miliki sudah tiada. Tapi dia tidak sendiri. “Oppa kau ingin minum apa?”. Ujarnya. “Ah terserah kau saja”. Ujarku padanya yang hanya dibalas anggukan. “Baiklah, tunggu disini”. Ujarnya sembari meninggalkanku membawa minuman.
Ku edarkan pandangan mataku disetiap sudut rumahnya, mataku tertuju pada sebuah bingkai foto di atas meja di hadapan kursi yang ku duduki. Foto itu terdiri dari seorang yeoja bersama laki-laki paruh baya. Fokusku bukan pada yeoja itu, tapi laki-laki paruh baya. “Apa? Cho-Choi Hyun Yoo?”. Gumamku kala melihat foto itu. Jadi yeoja itu, yeoja itu anak dari Choi Hyun Yoo?
TBC
NB      : Arti dari kata-kata korea di atas
1.    Ajhussi (Paman)
2.    Majjayo (Benar)
3.    Wae? (Kenapa?)
4.    Yobseoyo (Hello)
5.    Oppa (panggilan kekasih) bagi perempuan
6.    Mwo haseoyo? (Kau sedang apa?)
7.    Eobseoyo (Tidak ada)
8.    Waegeure? (Ada apa?)
9.    Appokhaji? (Apa kau sakit?)
1.  Aniyo (Tidak)
1.  Naneun an-gwenchana (aku tidak baik-baik saja)
1.  Waseoyo? (Kau sudah datang?)
1.  Waeyo? (Ada apa?)

Love Like Monster (Chapter 1)



Love Like Monster (Chapter 1)


Main cast       :
·         Choi Xi Hyun
·         Park Jae Hyuk
·         Han Yong Woo
Genre             : Relationship, Sadness, Friendship, Romance, Triangle Love, Family.
Lenght           : Chapter
Happy Reading
“Dimana kau saat aku menginginkanmu berada di sampingku? Kemana larinya kau saat aku berjuang untuk satu-satunya makhluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis”. - Xi Hyun.
“Aku akan selalu ada untukmu, melindungimu”. – Jae Hyuk.
...
Author Pov.
“Andwaeeeeee appaaaaaa”. Seorang namja terbangun dari tidurnya, mimpi itu muncul kembali. Mimpi dimana ayahnya mati dihadapannya.
Flash Back
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun bersembunyi dibalik pintu kamarnya, diam-diam ia melihat semua yang terjadi saat ini. Han Jun Su, ayahnya mengalami kebangkrutan karena tertipu rekan bisnisnya Choi Hyun Yoo. Sejak itu ayahnya terserang penyakit jantung hingga merengkut nyawanya. Anak laki-laki itu pun bersumpah suatu saat nanti ia akan membalaskan dendam sang ayah dan akan menghancurkan hidup Choi Hyun Yoo.
Jae Hyuk Pov.
“Mwo? Appa menyuruhku untuk meneruskan perusahaan? Appa kau tidak salah bicara? Aku bahkan baru menyelesaikan studiku. Bagaimana bisa aku memimpin perusahaan?”. Jae Hyuk terkejut dengan ucapan ayahnya mengenai penerus perusahaan Park. “Lambat laun kau pasti akan mengerti mengenai bisnis, maka dari itu appa memasukkanmu di jurusan bisnis”. Ujar ayah dengan santainya. “Tapi tetap saja aku ini belum berpengalaman, appa”. Benar-benar ayahku ini.
Xi Hyun Pov.
“Five, six seven, eight”. Ujar Jang Woo memberi komando pada saat latihan. Tapi aku tak bisa fokus, dan hanya melamun. “Oh ayolah Xi Hyun, saat ini buanglah jauh-jauh pikiranmu tentang hyung-ku. Kita sudah melangkah sejauh ini dengan susah payah, kau tak inginkan usaha kita sia-sia?”. Keluh namja bernama Jang Woo. Hmm benar juga, aku harus fokus menjadi entertain yang sangat terkenal. Itu adalah tujuan kami. “Mianhae Jang Woo,kajja kita latihan lagi. Aku janji akan fokus”. Ujarku dengan penuh rasa bersalah. “Kau yakin?”. Tanya Jang Woo. “Ne, geurondeoyo. Kau bisa menghukumku jika aku tak fokus”. Ujarku dibarengi cengiran. “Arraso, aku akan menghukummu jika kau tak fokus”. Ujar Jang Woo setengah kesal padaku, tapi setelah itu dia tersenyum padaku.
Jong Woo Pov.
Pandangan mataku tertuju pada sebuah figura foto. Foto dua anak laki-laki dengan ayahnya, mereka tersenyum bahagia. “Hmm mimpi itu muncul lagi appa. Appa bagimana kabarmu?”. Gumamku pada sebuah foto. Aku sungguh merindukan ayahku, dia orang yang baik. Tapi kenapa orang itu dengan tega menghancurkan ayah. “Aku berjanji padamu appa, dia akan mendapat balasan atas semua yang ia perbuat terhadap kita. Yaksoke appa”.
Jae Hyuk Pov.
“Kemana yeoja itu? Seharusnya dia sudah berada di sini.” Jae Hyuk melirik jam yang bertengger di tangannya, jam itu menunjukkan pukul 5 sore. Hari ini aku mengajak Xi Hyun minum coffe di kedai langganan kami. Ah yeoja itu benar-benar terlambat, kebiasaannya susah dihilangkan. Aku jadi teringat saat kami masih menduduki bangku sekolah menengah pertama. Aku tersenyum kala mengingat hal itu, hal dimana aku mulai menyukainya.
Flash Back
Seorang anak laki-laki berseragam longgar, kemeja seragam dimasukkan kedalam, model rambut lusuh, kacamata tebal dan satu hal lagi, jangan melupakan buku-buku tebal yang selalu ia bawa. Saat itu anak laki-laki tersebut tengah dibully oleh teman-teman sekelasnya. Memang sudah tak aneh lagi jika anak itu dibully teman-teman sekelasnya, melihat penampilannya yang jauh berbeda dari anak-anak yang lain. Tapi meskipun penampilan anak laki-laki itu seperti itu, ia memiliki otak yang sangat cerdas. Kali ini wajahnya penuh dengan memar akibat dipukuli teman-temannya.
“Hey kalian, apa kalian tidak malu mengkeroyok orang lain? Lihat diri kalian, kalian pikir kalian hebat? Kalian hanya bermodal kekerasan, tapi sayang kalian tidak memiliki otak”. Ujar seorang anak perempuan yang baru memasuki kelas karena terlambat, tapi untung saja seongsangnim sedang berhalangan masuk. “Lihat dirimu Yeon Cha, apa pantas seorang ketua murid melakukan pengkeroyokan? Kau bahkan tak lebih dari seorang pengecut”. Ujar anak perempuan yang tak lain tak bukan adalah Xi Hyun. “Kajja Jae Hyuk, kita pergi dari sini”. Xi Hyun membawa Jae Hyuk keluar dari kelas.
Terdengar sebuah erangan seorang anak laki-laki dari halaman belakang sekolah. “Apa sangat sakit?”. Tanya Xi Hyun sambil mencoba mengobati luka lebam pada wajah Jae Hyuk. “Ne, neomu appo”. Ujar Jae Hyuk sambil menahan sakit. “Bertahanlah, sedikit lagi”. Ujar Xi Hyun menenangkan Jae Hyuk yang dengan dibalas anggukan olehnya. “Kenapa kau menolongku?”. Pertanyaan Jae Hyuk membuat Xi Hyun terdiam, ia tak tau kenapa ia menolong Jae Hyuk. “Aku hanya kesal dengan semua ini, memangnya mereka siapa bisa melakukan hal semau mereka tanpa memikirkan perasaan orang lain”. Ujar Xi Hyun dengan polosnya. “Lagi pula apa salahmu sampai mereka selalu memperlakukanmu seperti itu?”. Pertanyaan Xi Hyun membuat Jae Hyuk menautkan alis, ia tidak tau kesalahan apa yang ia lakukan hingga ia selalu terluka. “Aku tak tau apa salahku, aku tak pernah mencari keributan. Tapi mereka selalu menyalahkan penampilanku”. Ujar Jae Hyuk. “Penampilanmu? Memang ada apa dengan penampilanmu? Kau masih tampak seperti manusia menurutku”. Pernyataan Xi Hyun benar-benar polos. “Sudah selesai”. Ujar Xi Hyun kala selesai mengobati luka Jae Hyuk. “Gomawo, Xi Hyun-ah”. Ujar Jae Hyuk membuat Xi Hyun tersenyum lembut padanya.
Flash Back End
“Mianhae aku terlambat”. Ujar Xi Hyun saat duduk dihadapan Jae Hyuk. “Darimana saja kau? Hampir saja aku mati berbusa menuggumu”. Ujar Jae Hyuk setengah kesal. “Hari ini aku benar-benar tak fokus saat latihan, maka dari itu aku terus mengulang”. Ujar Xi Hyun sambil mengerucutkan bibir mungilnya. “Oh begitu, gwenchana? Kau ingin pesan apa?”. Ujar Jae Hyuk merasa bersalah. “Mmmm aku ingin Cappucino”. Jawab Xi Hyun. “Baiklah, kau tunggu disini ya”. Ujar Jae Hyuk sembari meninggalkan Xi Hyun untuk memesan minuman. Tak perlu menunggu waktu lama, Jae Hyuk datang membawa pesanan. “Pesanan sudah datang” ujar Jae Hyuk. “Waaaa cepat sekali, ngomong-ngomong apa yang ingin kau katakan padaku?”. Ujar Xi Hyun.
TBC
NB      : Arti dari kata-kata korea di atas
1. Andwae (Tidak/Jangan)
2. Appa (Ayah)
3. Mwo? (Apa?)
4. Hyung (kakak) bagi laki-laki
5. Kajja (Ayo)
6. Ne (Iya)
7. Geurondeoyo (Tentu saja)
8. Arraso (Baiklah)
9. Yaksoke (Aku berjanji)
1. Seongsangnim (Guru)
1. Neomu appo (Sangat sakit)
1. Gomawo (Terima kasih)
1. Mianhae (Maaf)
1. Gwenchana? (Kau tidak apa-apa?)