Love
Like Monster (Chapter 3)
Main
cast :
·
Choi Xi Hyun
·
Park Jae Hyuk
·
Han Yong Woo
Genre : Relationship, Sadness,
Friendship, Romance, Triangle Love, Family.
Lenght : Chapter
Happy
Reading
“Dimana kau saat aku menginginkanmu
berada di sampingku? Kemana larinya kau saat aku berjuang untuk satu-satunya
makhluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan
ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum
terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis”. - Xi Hyun.
“Aku akan selalu ada untukmu,
melindungimu”. – Jae Hyuk.
...
Previous
Ku edarkan pandangan mataku disetiap
sudut rumahnya, mataku tertuju pada sebuah bingkai foto di atas meja di hadapan
kursi yang ku duduki. Foto itu terdiri dari seorang yeoja bersama laki-laki
paruh baya. Fokusku bukan pada yeoja itu, tapi laki-laki paruh baya. “Apa?
Cho-Choi Hyun Yoo?”. Gumamku kala melihat foto itu. Jadi yeoja itu, yeoja itu
anak dari Choi Hyun Yoo?
...
“Braakkk”.
Terdengar suara benda berserakan yang berasal dari ruang kerja Yong Woo. Ya,
saat ini ia tak bisa berpikir jernih. Ruang kerja yang selalu rapih dalam
keadaan berantakan bagai kapal pecah. Nafas namja itu menburu menahan amarah,
bagaimana bisa ia tak tahu bahwa selama ini ayah dari yeoja yang ia cintai
adalah penyebab kematian ayahnya. “Aaaaaarght”. Teriak Yong Woo frustasi. “Wae?
Wae? Kenapa harus Xi Hyun? Kenapa bukan orang lain saja? Aku tak mungkin
menyakiti Xi Hyun”. Gumamnya gusar. Terbersit bayangan-bayangan Xi Hyun saat
tertawa, menangis, merajuk membuat Yong Woo tak karuan. Yong Woo benar-benar
kacau saat ini.
...
“Annyeong”.
Suara lembut seorang yeoja terdengar di telinga Jae Hyuk, ia mengenali suara
itu. “Oh Xi Hyun-ah?”. Heran Jae Hyuk. “Waeyo? Kenapa wajahmu seperti itu?”.
Ujar Xi Hyun. “Kau? Kenapa kau bisa ada di sini?”. Tanya Jae Hyuk. “Waseoyo?”.
Tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya datang. “Ne, ajhussi”. Jawab Xi Hyun
pelan. “Appa yang memanggil Xi Hyun kemari”. Jawab tuan Park melihat ekspresi
jae Hyuk yang seolah mengatakan ada apa ini?. “Appa ingin Xi Hyun tinggal di
sini mulai dari sekarang”. Ujar tuan Park. “Mwo? Xi Hyun akan tinggal di
sini?”. Jae Hyuk tercengang dengan ucapan ayahnya. “Ne, wae? Kau keberatan?”.
Tanya tuan Park. “Aniyo, tentu saja aku senang appa. Xi Hyun sahabatku, jadi
aku tak akan kesepian”. Ungkapnya sembari menampilkan sebuah cengiran.
Yong
Woo Pov.
Saat
ini aku tengah sarapan pagi, tapi hidangan yang ada dihadapanku sama sekali tak
kumakan. Aku hanya mengaduk-aduknya. “Hyung, gwenchanayo? Kau tampak kacau. Apa
ada masalah?” suara Jang Woo membuyarkan lamunanku. “Nan gwenchana, hyung hanya
kelelahan mengurus perusahaan”. Bohongku. “Oh jinjayo? Bagaimana hubunganmu
dengan Xi Hyun? Kau taukan ayahnya meninggal?”. Tanya dongsaengku panjang
lebar. “Baik, hubungan kami baik. Nan arraso, sepertinya hyung harus pergi. Ada
hal yang harus hyung urus”. Jawabku sembari meninggalkan Jang woo.
Xi
Hyun Pov.
Aku
tengah berada di balkon lantai atas kediaman Park ajhussi. Mulai saat ini aku
tinggal di sini. Aku masih tak percaya ayah meninggalkanku begitu cepat.
Bulir-bulir air mataku berjatuhan mengingat kecelakaan itu.
Flash Back
“Appa
bertahanlah, kau tak boleh meninggalkanku appa. Hanya kau satu-satunya yang aku
miliki”. Teriakku histeris melihat kondisi ayahku begitu parah, darah
dimana-mana. “Maaf nona, ayah anda sudah tiada”. Ujar uisanim. “Tidak mungkin,
appa kumohon bangunlah appa. Jangan membuat lelucon seperti ini, ini sama
sekali tidak lucu appa”. Aku bersikeras membangunkan ayah dengan
mengguncang-guncangkan tubuhnya. Aku benar-benar frustasi, aku berteriak lalu
terisak. Dapat kurasakan seseorang mendekapku mencoba menenangkanku. “Tenanglah
Xi Hyun-ah, jangan seperti ini. Aku yakin Hyun Yoo ajhussi tak suka melihatmu
seperti ini”. Ujar Jae Hyuk. Aku hanya bisa menangis dan membalas dekapannya.
Flash Back End
Kurasakan
seseorang sedang mencoba menyelimutiku. “Kau tak merasa kedinginan? Kau bisa
sakit kalau begitu terus, Xi Hyun-ah”. Ujar Jae Hyuk sambil menyenderkan
punggungnya pada pagar balkon. “Gomawo”. Hanya itu yang terlontar dariku,
mulutku terlalu kelu untuk berbicara. “Sebaiknya kau segera beristirahat, aku
tak ingin terjadi sesuatu padamu”. Ujarnya yang hanya dibalas anggukan olehku.
Jae
Hyuk Pov.
Sungguh
aku sedih melihatnya seperti itu. Xi Hyun benar-benar terpukul dengan kematian
Hyun Yoo ajhussi. Tapi ada sesuatu yang mengganjal menurutku. Aku merasa Hyun
Yoo ajhussi meninggal bukan karena kecelakaan tapi ada seseorang dibalik semua
itu. Bagaimana mungkin rem mobil Hyun Yoo ajhussi tiba-tiba tidak dapat
berfungsi, sedangkan pegawai kantor Hyun Yoo ajhussi mengatakan kalau dua hari
yang lalu ia diberi tugas Hyun Yoo ajhussi untuk menservis mobilnya. Aku harus
mencari tahu tentang semua ini.
...
Saat
ini aku sedang berada di kedai Coffe langgananku dan Xi Hyun. Aku sengaja tak
mengajak Xi Hyun mengingat kondisinya saat ini. Dia benar-benar terpuruk. “Hmm
kenapa dia ada disini?”. Aku melihat seseorang yang kukenal memasuki kedai
dengan tergesa-gesa. Ia duduk tepat di belakangku. Ya kedai ini memiliki sekat,
dan kami terpisahkan oleh sebuah sekat. Tapi tak berarti aku tak mendengar
percakapan mereka. “Ada apalagi?”. Ujar namja yang ku kenal. “Ini tentang
kecelakaan itu”. Ujar namja satu lagi yang entah siapa. “Kecelakaan itu? Apa
maksud mereka?”. Batinku berujar. “Bisa kau pelankan suaramu? Kau tak lihat
kita sedang berada dimana? Apa maumu? Apa bayaranmu kurang? Sudah kubilangkan
jangan sampai orang lain tau mengenai tewasnya Hyun Yoo karena pembunuhan bukan
kecelakaan”. Ujar namja yang kukenal. “Anda tenang saja, akan kupastikan
semuanya tak akan terbongkar”. Ujar namja yang kuyakini adalah suruhan namja
yang kukenal. “Lain kali jika kau ingin membicarakan hal ini, kau harus
menentukan waktu dan tempat yang tepat. Bayaranmu akan segera kukirim, ingat
jangan sampai terbongkar. Aku harus segera pergi, aku tak mau orang lain
curiga”. Ujar namja yang kukenal sembari meninggalkan kedai. “Apa? Jadi benar
Hyun Yoo ajhussi meninggal karena dibunuh. Dan otak dibalik ini semua adalah
Han Yong Woo”. Batinku berujar. Aku benar-benar tak percaya dengan semua ini.
Kenapa Yong Woo melakukan hal sekeji ini? Ini tak bisa dibiarkan. Xi Hyun,
entah kenapa aku teringat Xi Hyun. Dia pasti sangat kecewa jika mengetahui
kekasihnyalah yang membunuh ayahnya sendiri. Sekelebat bayangan-bayangan muncul
dibenakku. Bayangan saat Xi Hyun menangis, bayangan Xi Hyun sedang mengubah
penampilanku saat masih sekolah menengah pertama, bayangan ayah yang menyuruhku
meneruskan perusahaan, percakapan Yong Woo dan namja suruhannya. Itu semua
membuatku kesal.
Flash Back
“Tok tok tok”. Aku mengetuk
pintu ruang kerja ayah. “Masuklah”. Ayah menginterupsiku untuk masuk
ruangannya. “Apa yang ingin appa jelaskan padaku?”. Tanyaku. “Kau masih ingat
apa yang appa katakan padamu tempo hari tentang penerus perusahaan Park?”. Tanya
ayah. “Ne, aku masih ingat”. Jawabku sekenannya. “Lalu apa jawabanmu?”. Ayah bertanya
lagi padaku. “Kenapa appa selalu menanyakan hal itu padaku? Itu terlalu cepat
appa”. Jawabku. “Mwo? Kau bilang itu terlalu cepat? Kapan kau akan dewasa kalau
begitu? Kau menunggu appa mati baru kau akan meneruskan perusahaan? Lalu bagaimana
nasib Xi Hyun?”. Ujar ayah panjang lebar. “Nasib Xi Hyun?”. Tanyaku heran. Kenapa
dengan Xi Hyun? Batinku berujar. Ayah mengambil nafas dalam lalu menjelaskan
semuanya. “Saham perusahaan Choi
diambil alih oleh perusahaan lain. Maka dari itu appa segera menyuruh Xi Hyun
untuk tinggal di sini, karena appa tak mau Xi Hyun semakin terluka. Appa sudah
menganggap Xi Hyun seperti puteri appa sendiri. Kematian Hyun Yoo sudah cukup
membuatnya sangat menderita, dan appa tak ingin Xi hyun semakin terluka jika
mengetahui semua harta kekayaan yang seharusnya jatuh ketangannya di ambil oleh
orang-orang jahat. Kau harus menjaganya Jae Hyuk-ah. Appa sudah tua, dan appa
tak mungkin mengelola perusahaan ini sendiri ditambah lagi saham perusahaan
Hyun Yoo diambil alih oleh orang-orang yang tak berhati nurani. Kau pikirkan
baik-baik tawaran appa untuk meneruskan perusahaan”. Ujar ayah. Masalah semakin
rumit, aku harus meneruskan perusahaan lalu Xi Hyun kehilangan segalanya.
Flash Back End.
Aku
harus menjaga Xi Hyun meski dengan cara memisahkan mereka. Tenanglah Xi Hyun-ah,
akan ku beri dia pelajaran. Aku meninggalkan kedai coffe menuju suatu tempat,
dan tak lupa menyimpan beberapa uang lembar won di atas meja kedai.
...
“Braakk”.
Aku membuka pintu kantor ayah dengan kasar. “Yak! Dasar anak bodoh, sudah appa
bilang kau harus mengetuk pintu sebelum masuk”. Ujar ayah. “Ini lebih penting
dari sekedar mengetuk pintu appa”. Ujarku menahan emosi dan mengatur nafasku
yang memburu. “Mwo? Apa yang ingin kau katakan?”. Tanya ayah. “Aku ingin
meneruskan perusahaan appa”. Jawabku mantap, sedangkan ayah hanya tercengang
mendengar penuturanku. “Aku akan berusaha appa”. Ujarku lagi pada ayah. “Kau
serius?”. Tanya ayah. “Ne appa, aku serius”. Ujarku padanya. “Baiklah kalau
begitu”. Jawab ayah. “Tunggulah Xi Hyun, semua milikmu akan kurebut kembali. Aku
berjanji”. Batinku berujar.
TBC
NB : Arti dari kata-kata korea di atas
1. Dongsaeng
(Adik)
2. Uisanim
(Dokter)


