IK
Hou Van Je (Chapter 3)
Main cast:
Beneepa Greeny Rarun (You)
Bebbhy Alova Rarun(Sister)
Arthur Borland (Beneepa’s Boyfriend)
Syibil Jung (Friend)
Renata Diska (Friend)
Redy Shelfin Qi (Beeneepa’s Bestfriend)
Julian Jacob (Friend)
Catatan :
Cerita ini asli, hanya main castnya yang aku ganti. Jadi jika ada kesalahan
atau kesamaan cerita atau nama, mohon maaf. Oh bagi yang tidak mengetahui ik
hou van je akan ku beritahu, itu adalah bahasa belanda yang artinya “aku
mencintaimu”.
Happy Reading
Previous
Aku
menutup mataku menghirup udara sebanyak mungkin yang kubisa. Saat ini aku
berada di taman belakang sekolah. Aku tidak bisa pulang saat ini, seharusnya
aku tak melewati koridor itu. Koridor itu penuh dengan kenanganku dengannya,
apa ia masih mengingatnya? Lebih baik untuk saat ini aku tetap berada disini,
sampai waktu yang tepat untuk pulang.
......
Author
Pov.
Tak
terasa waktu sudah semakin sore. Namun gadis yang berada dihalaman belakang
sekolah enggan untuk beranjak pergi, entah apa yang dipikirkannya. “Pukul
berapa sekarang?”. Iapun melirik jam yang bertengger ditangannya, ”Oh tidak,
sudah sangat sore. Aku harus segera pulang jika tak ingin ibu marah”. Gadis
itupun berlari meninggalkan halaman belakang sekolah.
Beneepa
Pov.
“Aku
pulang”. Teriakku saat memasuki rumah. “Nona sudah pulang?”. Pelayan rumah
menyambutku dengan senyum manis. “Ya seperti yang kau lihat, dimana ibu?”. Tanyaku
pada pelayan rumah. “Nyonya dan Tuan sedang pergi, apa ada sesuatu yang nona
butuhkan saat ini?”. tanya pelayan paruh baya itu. “Tidak ada”. Ujarku padanya.
“Kau
sudah pulang? kemana saja kau?”. Ujar kakakku yang menyebalkan. “Bukan
urusanmu, apa yang kau lakukan disini?”. Jawabku padanya dengan kesan dinginku.
“Tentu saja karena aku merindukan rumah, lagipula seminggu kedepan aku tidak
ada jadwal kuliah. Aku bosan sendiri tinggal di apartemen itu, lebih baik aku
pulang ke rumah”. Jawabnya dengan memasang cengiran yang membuatku semakin
muak. “Terserah kau”. Aku masih tetap menjawabnya dengan ketus, apa peduliku.
“Beneepa kumohon, berhentilah mengacuhkanku. Aku min..”. Belum sempat ia
menyelesaikan kalimat yang akan ia ucapkan, aku sudah memotongnya dengan
menutup pintu kamarku dengan keras.
“Brakk”.
Aku membanting pintu kamarku begitu keras. Kenapa monster itu ada disini, sudah
bagus ia tidak ada. Membuatku pusing saja.
Keesokan harinya
“Hei
Arthur, sepertinya kau sangat dekat dengan Renata. Apa kalian ada hubungan?”.
Ujar Syibil temanku sekaligus sahabat Arthur. “Tidak, kami hanya berteman
saja”. Ujar Arthur dengan santai. “Ah yang benar saja? Apa kau masih mencintai
Beneepa?”. Pertanyaan syibil membuat
Arthur terdiam sesaat. “Kenapa?”. Arthur hanya menjawab pertanyaan Syibil
seperlunya, ia takut orang-orang mengetahui jika ia masih mencintai gadis itu.
“Bagaimana kalau kita bertaruh?”. Perkataan Syibil membuat Arthur mengangkat
sebelah alis karena tak mengerti apa maksud dari ucapan gadis yang bernotaben
sahabatnya itu. Melihat reaksi Arthur, Syibil tau persis jika sahabatnya yang
bisa dibilang lemot ini tidak mengerti ucapannya. “Iya kita bertaruh, kau
menyatakan cinta pada Renata dan aku menyatakan cinta pada Julian dalam waktu
yang bersamaan”. Ujar Syibil menjelaskan ide gilanya. “Lalu?”. Hanya itu
jawaban dari Arthur, jujur ia tak ingin menyatakan cinta selain pada Beneepa.
“Kita beradu cepat, siapa yang mendapatkan jawaban YA paling cepat, maka itulah
pemenangnya”. Oh tidak, mimpi buruk apalagi ini? Syibil sudah mulai gila.
Bagaimana mungkin menyatakan cinta pada seseorang tanpa didasari rasa cinta? Bagaimana jika Beneepa
salah faham? Batin Arthur berujar. “Bagaimana?”. Pertanyaan Syibil membuyarkan
lamunan Arthur. “Kalau aku tidak mau?”. Arthur mencoba bersikap tenang
menghadapi sahabatnya yang miring itu. “Kalau kau tidak mau, sudah sangat jelas
kau masih mencintai Beneepa”. Syibil berujar dengan polosnya, entah terbuat
dari apa isi otaknya itu. “Hmm,, baiklah. Tapi aku yang menentukan waktunya”.
Ujar Arthur was-was. “Baiklah kawan”. Syibil pun pergi meninggalkan Arthur yang
sedang memikirkan sesuatu. Ya sesuatu yang sangat penting mengenai masalah ini.
Author
Pov.
“Beneepa,
awas!”. Teriak Redy sahabatnya. Beneepa yang tak mengerti maksud sahabatnya itu
hanya bisa diam. “Dug”. Kepala gadis itu terkena hantaman bola cukup keras,
membuatnya tak sadarkan diri. “Oh Tuhan, Beneepa sadarlah. Kau mendengarku?
Beneepa?”. Redy panik melihat kondisi sahabatnya yang tak sadarkan diri itu,
dan segera membawanya ke ruang kesehatan sekolah.
Arthur
Pov.
“Kenapa
ini? Kenapa perasaanku tidak tenang?”. Batin Arthur berujar. “Ku dengar Beneepa
tak sadarkan diri dan dilarikan ke UKS”. Tiba-tiba Julian muncul. “Apa yang
terjadi?”. Arthur menahan mati-matian rasa paniknya dan mencoba bersikap
tenang. “Dia terkena hantaman bola dengan sangat keras, apa dia akan gegar
otak?”. Julian mencoba memancing Arthur dengan perkataannya. “Sebaiknya kau
duduk, pelajaran bahasa akan segera dimulai”. Ujar Arthur setenang mungkin,
padahal hatinya begitu khawatir. “Pantas saja hatiku tidak tenang. Terjadi
sesuatu padamu, Dear. Apa kau baik-baik saja?”. Arthur berujar dalam hati,
tanpa ia sadari Julian memperhatikan gerak-geriknya. “Aku tau kau panik Arthur,
aku sudah sangat mengenalmu. Tapi kenapa kau bersikap seperti itu?”. Batin
Julian berujar.
TBC
NB :
Telat banget ya ini postingan.. Maaf kawan-kawan, dan berhentilah
menagih cerita. hahaha.. Da
apa atuh aku mah, baru lulu sidang..
Yeeeeee.. Next part gak janji
bakalan cepet, so sabar
z yaaaa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar