Jumat, 13 Juni 2014

Love Like Monster (Chapter 3)



Love Like Monster (Chapter 3)

Main cast       :
·         Choi Xi Hyun
·         Park Jae Hyuk
·         Han Yong Woo
Genre             : Relationship, Sadness, Friendship, Romance, Triangle Love, Family.
Lenght           : Chapter
Happy Reading
“Dimana kau saat aku menginginkanmu berada di sampingku? Kemana larinya kau saat aku berjuang untuk satu-satunya makhluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis”. - Xi Hyun.
“Aku akan selalu ada untukmu, melindungimu”. – Jae Hyuk.
...
Previous
Ku edarkan pandangan mataku disetiap sudut rumahnya, mataku tertuju pada sebuah bingkai foto di atas meja di hadapan kursi yang ku duduki. Foto itu terdiri dari seorang yeoja bersama laki-laki paruh baya. Fokusku bukan pada yeoja itu, tapi laki-laki paruh baya. “Apa? Cho-Choi Hyun Yoo?”. Gumamku kala melihat foto itu. Jadi yeoja itu, yeoja itu anak dari Choi Hyun Yoo?
...
“Braakkk”. Terdengar suara benda berserakan yang berasal dari ruang kerja Yong Woo. Ya, saat ini ia tak bisa berpikir jernih. Ruang kerja yang selalu rapih dalam keadaan berantakan bagai kapal pecah. Nafas namja itu menburu menahan amarah, bagaimana bisa ia tak tahu bahwa selama ini ayah dari yeoja yang ia cintai adalah penyebab kematian ayahnya. “Aaaaaarght”. Teriak Yong Woo frustasi. “Wae? Wae? Kenapa harus Xi Hyun? Kenapa bukan orang lain saja? Aku tak mungkin menyakiti Xi Hyun”. Gumamnya gusar. Terbersit bayangan-bayangan Xi Hyun saat tertawa, menangis, merajuk membuat Yong Woo tak karuan. Yong Woo benar-benar kacau saat ini.
...
“Annyeong”. Suara lembut seorang yeoja terdengar di telinga Jae Hyuk, ia mengenali suara itu. “Oh Xi Hyun-ah?”. Heran Jae Hyuk. “Waeyo? Kenapa wajahmu seperti itu?”. Ujar Xi Hyun. “Kau? Kenapa kau bisa ada di sini?”. Tanya Jae Hyuk. “Waseoyo?”. Tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya datang. “Ne, ajhussi”. Jawab Xi Hyun pelan. “Appa yang memanggil Xi Hyun kemari”. Jawab tuan Park melihat ekspresi jae Hyuk yang seolah mengatakan ada apa ini?. “Appa ingin Xi Hyun tinggal di sini mulai dari sekarang”. Ujar tuan Park. “Mwo? Xi Hyun akan tinggal di sini?”. Jae Hyuk tercengang dengan ucapan ayahnya. “Ne, wae? Kau keberatan?”. Tanya tuan Park. “Aniyo, tentu saja aku senang appa. Xi Hyun sahabatku, jadi aku tak akan kesepian”. Ungkapnya sembari menampilkan sebuah cengiran.
Yong Woo Pov.
Saat ini aku tengah sarapan pagi, tapi hidangan yang ada dihadapanku sama sekali tak kumakan. Aku hanya mengaduk-aduknya. “Hyung, gwenchanayo? Kau tampak kacau. Apa ada masalah?” suara Jang Woo membuyarkan lamunanku. “Nan gwenchana, hyung hanya kelelahan mengurus perusahaan”. Bohongku. “Oh jinjayo? Bagaimana hubunganmu dengan Xi Hyun? Kau taukan ayahnya meninggal?”. Tanya dongsaengku panjang lebar. “Baik, hubungan kami baik. Nan arraso, sepertinya hyung harus pergi. Ada hal yang harus hyung urus”. Jawabku sembari meninggalkan Jang woo.
Xi Hyun Pov.
Aku tengah berada di balkon lantai atas kediaman Park ajhussi. Mulai saat ini aku tinggal di sini. Aku masih tak percaya ayah meninggalkanku begitu cepat. Bulir-bulir air mataku berjatuhan mengingat kecelakaan itu.
Flash Back
“Appa bertahanlah, kau tak boleh meninggalkanku appa. Hanya kau satu-satunya yang aku miliki”. Teriakku histeris melihat kondisi ayahku begitu parah, darah dimana-mana. “Maaf nona, ayah anda sudah tiada”. Ujar uisanim. “Tidak mungkin, appa kumohon bangunlah appa. Jangan membuat lelucon seperti ini, ini sama sekali tidak lucu appa”. Aku bersikeras membangunkan ayah dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Aku benar-benar frustasi, aku berteriak lalu terisak. Dapat kurasakan seseorang mendekapku mencoba menenangkanku. “Tenanglah Xi Hyun-ah, jangan seperti ini. Aku yakin Hyun Yoo ajhussi tak suka melihatmu seperti ini”. Ujar Jae Hyuk. Aku hanya bisa menangis dan membalas dekapannya.
Flash Back End
Kurasakan seseorang sedang mencoba menyelimutiku. “Kau tak merasa kedinginan? Kau bisa sakit kalau begitu terus, Xi Hyun-ah”. Ujar Jae Hyuk sambil menyenderkan punggungnya pada pagar balkon. “Gomawo”. Hanya itu yang terlontar dariku, mulutku terlalu kelu untuk berbicara. “Sebaiknya kau segera beristirahat, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu”. Ujarnya yang hanya dibalas anggukan olehku.
Jae Hyuk Pov.
Sungguh aku sedih melihatnya seperti itu. Xi Hyun benar-benar terpukul dengan kematian Hyun Yoo ajhussi. Tapi ada sesuatu yang mengganjal menurutku. Aku merasa Hyun Yoo ajhussi meninggal bukan karena kecelakaan tapi ada seseorang dibalik semua itu. Bagaimana mungkin rem mobil Hyun Yoo ajhussi tiba-tiba tidak dapat berfungsi, sedangkan pegawai kantor Hyun Yoo ajhussi mengatakan kalau dua hari yang lalu ia diberi tugas Hyun Yoo ajhussi untuk menservis mobilnya. Aku harus mencari tahu tentang semua ini.
...
Saat ini aku sedang berada di kedai Coffe langgananku dan Xi Hyun. Aku sengaja tak mengajak Xi Hyun mengingat kondisinya saat ini. Dia benar-benar terpuruk. “Hmm kenapa dia ada disini?”. Aku melihat seseorang yang kukenal memasuki kedai dengan tergesa-gesa. Ia duduk tepat di belakangku. Ya kedai ini memiliki sekat, dan kami terpisahkan oleh sebuah sekat. Tapi tak berarti aku tak mendengar percakapan mereka. “Ada apalagi?”. Ujar namja yang ku kenal. “Ini tentang kecelakaan itu”. Ujar namja satu lagi yang entah siapa. “Kecelakaan itu? Apa maksud mereka?”. Batinku berujar. “Bisa kau pelankan suaramu? Kau tak lihat kita sedang berada dimana? Apa maumu? Apa bayaranmu kurang? Sudah kubilangkan jangan sampai orang lain tau mengenai tewasnya Hyun Yoo karena pembunuhan bukan kecelakaan”. Ujar namja yang kukenal. “Anda tenang saja, akan kupastikan semuanya tak akan terbongkar”. Ujar namja yang kuyakini adalah suruhan namja yang kukenal. “Lain kali jika kau ingin membicarakan hal ini, kau harus menentukan waktu dan tempat yang tepat. Bayaranmu akan segera kukirim, ingat jangan sampai terbongkar. Aku harus segera pergi, aku tak mau orang lain curiga”. Ujar namja yang kukenal sembari meninggalkan kedai. “Apa? Jadi benar Hyun Yoo ajhussi meninggal karena dibunuh. Dan otak dibalik ini semua adalah Han Yong Woo”. Batinku berujar. Aku benar-benar tak percaya dengan semua ini. Kenapa Yong Woo melakukan hal sekeji ini? Ini tak bisa dibiarkan. Xi Hyun, entah kenapa aku teringat Xi Hyun. Dia pasti sangat kecewa jika mengetahui kekasihnyalah yang membunuh ayahnya sendiri. Sekelebat bayangan-bayangan muncul dibenakku. Bayangan saat Xi Hyun menangis, bayangan Xi Hyun sedang mengubah penampilanku saat masih sekolah menengah pertama, bayangan ayah yang menyuruhku meneruskan perusahaan, percakapan Yong Woo dan namja suruhannya. Itu semua membuatku kesal.
Flash Back
Tok tok tok”. Aku mengetuk pintu ruang kerja ayah. “Masuklah”. Ayah menginterupsiku untuk masuk ruangannya. “Apa yang ingin appa jelaskan padaku?”. Tanyaku. “Kau masih ingat apa yang appa katakan padamu tempo hari tentang penerus perusahaan Park?”. Tanya ayah. “Ne, aku masih ingat”. Jawabku sekenannya. “Lalu apa jawabanmu?”. Ayah bertanya lagi padaku. “Kenapa appa selalu menanyakan hal itu padaku? Itu terlalu cepat appa”. Jawabku. “Mwo? Kau bilang itu terlalu cepat? Kapan kau akan dewasa kalau begitu? Kau menunggu appa mati baru kau akan meneruskan perusahaan? Lalu bagaimana nasib Xi Hyun?”. Ujar ayah panjang lebar. “Nasib Xi Hyun?”. Tanyaku heran. Kenapa dengan Xi Hyun? Batinku berujar. Ayah mengambil nafas dalam lalu menjelaskan semuanya. Saham perusahaan Choi diambil alih oleh perusahaan lain. Maka dari itu appa segera menyuruh Xi Hyun untuk tinggal di sini, karena appa tak mau Xi Hyun semakin terluka. Appa sudah menganggap Xi Hyun seperti puteri appa sendiri. Kematian Hyun Yoo sudah cukup membuatnya sangat menderita, dan appa tak ingin Xi hyun semakin terluka jika mengetahui semua harta kekayaan yang seharusnya jatuh ketangannya di ambil oleh orang-orang jahat. Kau harus menjaganya Jae Hyuk-ah. Appa sudah tua, dan appa tak mungkin mengelola perusahaan ini sendiri ditambah lagi saham perusahaan Hyun Yoo diambil alih oleh orang-orang yang tak berhati nurani. Kau pikirkan baik-baik tawaran appa untuk meneruskan perusahaan”. Ujar ayah. Masalah semakin rumit, aku harus meneruskan perusahaan lalu Xi Hyun kehilangan segalanya.
Flash Back End.
Aku harus menjaga Xi Hyun meski dengan cara memisahkan mereka. Tenanglah Xi Hyun-ah, akan ku beri dia pelajaran. Aku meninggalkan kedai coffe menuju suatu tempat, dan tak lupa menyimpan beberapa uang lembar won di atas meja kedai.
...
“Braakk”. Aku membuka pintu kantor ayah dengan kasar. “Yak! Dasar anak bodoh, sudah appa bilang kau harus mengetuk pintu sebelum masuk”. Ujar ayah. “Ini lebih penting dari sekedar mengetuk pintu appa”. Ujarku menahan emosi dan mengatur nafasku yang memburu. “Mwo? Apa yang ingin kau katakan?”. Tanya ayah. “Aku ingin meneruskan perusahaan appa”. Jawabku mantap, sedangkan ayah hanya tercengang mendengar penuturanku. “Aku akan berusaha appa”. Ujarku lagi pada ayah. “Kau serius?”. Tanya ayah. “Ne appa, aku serius”. Ujarku padanya. “Baiklah kalau begitu”. Jawab ayah. “Tunggulah Xi Hyun, semua milikmu akan kurebut kembali. Aku berjanji”. Batinku berujar.
TBC

NB      : Arti dari kata-kata korea di atas
1.    Dongsaeng (Adik)
2.    Uisanim (Dokter)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar